Header Ads

Hidup Tentram, Dengan Menggapai Jalan Yang Lurus

Foto Ilustrasi


IslamPers.com-Bekasi
اهدنا الصراط المستقيم
"Tunjukanlah kami jalan yang lurus"

Tidak sah shalat kita tanpa membaca Surat al Fatihah di tiap rakaatnya. Dan dalam 7 ayat surat al Fatihah ini setelah kita memuji, memuliakan dan mengagungkan Alloh, dengan tunduk kita memohon karunianya, yakni meminta agar dikaruniakan jalan yang lurus. Kita membacanya setiap hari minimal 17 kali.

Jalan yang lurus

Terjemah itu mungkin membuat sebagian kita membayangkan bahwa jalan lurus itu adalah jalan yang bagus, lurus, halus dan mulus. Kita mengira bahwa ia adalah jalan yang bebas hambatan dan tiada sesak, tanpa rintangan dan tanpa onak. Kita menyangka bahwa di jalan itu segala keinginan terkabul, setiap harapan terwujud, dan semua kemudahan dihamparkan.
Frasa " jalan yang lurus" membuat kita mengharapkan jalur yang tanpa deru dan tanpa debu. 

Maka kita kadang lupa, bahwa penjelasan tentang jalan yang lurus itu tepat berada diayat berikutnya. Jalan lurus itu ialah jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalannya orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Maka membentanglah Al Qur'an sepanjang 113 surat setelah Al Fatihah untuk memaparkan bagi manusia jalan orang-orang yang telah diberi nikmat itu, yakni jalannya Nabi Adam dan Hawa, jalan Nabi Nuh, Nabi Hud dan Nabi Shalih, jalan Nabi Ibrahim hingga Nabi Ya'kub dan keluarga, jalan Nabi Musa dan Harun, Jalan Nabi Dawud dan putranya, Jalan Nabi Ayyub dan Nabi Yunus, jalan Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, Maryam dan Nabi Isa. Jalan indah itu sesekali dihambat, diganggu, dihambat bahkan dilawan oleh jalan mereka yang dimurkai dan sesat, jalan Iblis, fir'aun hingga samiri dan Qarun.

Cerita kehidupan Nabi Adam hingga Isa berkelindan, mengokohkan cipta, rasa dan karsa Sang Rasul terakhir dan ummatnya yang bungsu. Kisah mereka bertautan, melahirkan makna-makna yang menguatkan iman dan perjuangan Sang Nabi terakhir dan pengikutnya dalam menghadapi kekejaman Abu Jahal, Abu Lahab, hingga Uqbah bin Abi Mu'ith dan orang-orang kafir Quraisy secara umum. Jalan lurus yang ditempuh Nabi Saw dan para pengikutnya dipenuhi dengan caci maki, rintangan, gangguan, penolakan, penyiksaan hingga pembunuhan.

وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

"Sesungguhnya  Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus".

Jalan yang lurus itu diikat oleh satu hakikat, yakni beribadah hanya kepada Alloh satu-satunya, tiada sekutu bagiNya, meskipun dalam perjalanannya tak seindah dan semulus yang kita bayangkan. [Islampers.com]
Advertisement

Tidak ada komentar

Silahakan berkomentar sesuai artikel