Header Ads

Agamaisasi Politik Memang Menjanjikan

Foto Ilustrasi
Islampers.com - Nusantara
Penemuan tradisi Islam yang utama bagi kelompok Islam politis terletak pada pemahaman baru tentang Islam sebagai agama dan pemerintahan, yakni melalui menyatukan doktrin agama dengan tatanan negara. Ketika kelompok Islam politis berbicara tentang solusi Islam bagi dunia, yang sedang mereka cari adalah pembaruan politik yang ada dalam upaya mendirikan negara Islam, bukan demokrasi atau liberalisme.

Itu merupakan ide utamanya dan bukan militansi atas dasar kekerasan, betapapun kekerasan sering menjadi ciri khas yang tidak bisa diabaikan. Lebih tepatnya, Islam politis menempatkan kesatupaduan antara agama dan negara, bukan hanya Islam sebagai doktrin normatif semata, tetapi ada semacam ikatan primordial bahwa tanpa tatanan negara syariat, Islam tidak akan pernah menjadi agama yang sempurna, terutama dalam kehidupan ini.

Kelompok Islam politik menjadikan politik sebagai pendasaran yang paling inti, bukan keimanan. Tetapi bukan hanya sekedar agenda politik, tetapi politik yang diagamaisasikan. Kita bisa menyaksikan beberapa fenomena global yang dapat menetapkan di mana posisi gerakan Islam politis ini, seperti fundamentalisme dan ekstremisme, mereka bukan aliran dalam arti teologis atau hukum, tetapi lebih merupakan gerakan politik atas nama Islam.

Gagasan tentang agamaisasi politik merupakan proyeksi akan suatu tatanan politik yang dianggap beremanasi dari kehendak Tuhan dan bukan didasarkan atas kedaulatan rakyat. Meskipun, Islam sebagai iman, hanya menyiratkan nilai-nilai etis dan politis, seperti dalam beribadah, beretika, tetapi tidak mensyaratkan sebuah tatanan pemerintahan secara khusus.

Islam politik sebenarnya tumbuh dari sebuah interpretasi spesifik atas doktrin Islam, mereka tidak pernah keluar dari koridor ini, namun ia bukanlah Islam itu sendiri, sehingga kelompok ini lebih tapat disebut sebagai gerakan ideologi politik yang berdasarkan pada Islam dan bukan ajaran agama Islam.

Kita dapat menyebut beberapa gerakan transnasional, seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Islamic State, al-Qaeda, Jamaah Islami, dan lain sebagainya. Mereka semua memiliki ciri-ciri yang sangat mirip satu sama lain, yakni membangunan tatanan dunia baru melalui jalan agamaisasi politik.

Dengan cara apapun, gerakan Islam politis sama sekali tidak bisa disebut sebagai bagian dari kebangkitan Islam, karena jelas, mereka tidak berupaya menghidupkan kembali Islam, tetapi justru membangun tatanan Islam secara baru yang dianggap tidak sesuai dengan warisan sejarahnya.

Islam politis lebih dapat disebut sebagai sebuah proyek untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam, betapapun ini terkesan dibuat-buat. Mereka mengimajinasikan suatu sistem pemerintahan dari langit bernama pemerintahan Tuhan, yang sebenarnya tidak penah ditemukan dalam seluruh dimensi kesejarahan Islam.

Gerakan Islam politis telah membawa agama yang semula menjadi fenomena pinggiran, kemudian menjelma menjadi kekuatan utama dipanggung global dan menolak seluruh tatanan modernitas.

Mereka mendambakan kembalinya yang suci, gerakan mereka juga diinisiasi oleh adanya krisis ganda, yakni krisis normatif yang berkaitan dengan benturan dengan ideologi politik modern dan kegagalan dalam membangun peradaban Islam secara struktural.

Kebangkitan kembali agama yang mereka maksud, bukan sebentuk renaisans dalam Islam. Tetapi agama yang menerima sebuah bentuk gagasan politik. Misalnya, dalam Islam, agamaisasi politik dimaksudkan atas nama sebuah komunitas muslim yang masih pada taraf imajiner. Mereka ingin menghasilkan tatanan politik yang dikenal dengan negara syariat.

Itu artinya bahwa gerakan Islam politis sangat identik dengan sebuah gerakan ideologis yang mencoba menggabungkan antara agama dengan negara dalam suatu tatanan politik berbasis syariat Islam. Ini merupakan gerakan politik yang diagamaisasikan, dan tentu bukan gerakan spiritualitas.

Agenda gerakan mereka juga tidak terbatas pada negara-negara yang sempat memiliki jejak peradaban Islam, tetapi secara keseluruhan bersifat global, mereka bermaksud menata secara baru dan mencipta ulang dunia secara total dan keseluruhan.

Meski, dalam berbagai bentuknya, baik Islam secara luas maupun bentuk Islam politis, selalu saja menempatkan keberagamaan dalam wujud kesatuan. Beberapa prinsip dan corak kepercayaan memiliki kemiripan satu sama lain bagi sejumlah umat Islam. Betapapun mereka semua mengekpresikannya dalam bentuk yang beragam atau berbeda-beda.

Menurut Anderson, siapapun harus mampu melampaui tiga ide; bahwa suatu bahasa tertentu memiliki hubungan yang unik dengan realitas, bahwa kepala negara memediasi antara Tuhan dan manusia, dan terakhir waktu historis itu setara dengan waktu kosmologis. Dapat dikatakan bahwa kelompok Islam politis telah gagal dalam memahami semua bentuk asumsi tersebut.

Sehingga, kelompok Islam politis sering dilabeli sebagai radikal sejati, bukan dalam pengertian keterlibatan mereka dalam kekerasan politis, tetapi pada taraf pengertian ide-ide tertentu yang begitu mendalam. Yakni memproyeksikan Islam pada kesatupaduan dengan politik dalam tatanan pemerintahan.

Saat ini, banyak konflik terjadi dikarenakan perseteruan sengit antara ide utopis kaum Islam politis dengan moderat. Gerakan Islam politis selalu berkembang sebagai gerakan ideologis yang beroposisi. Padahal, ketika mereka telah meraih kekuasaan, mereka gagal dalam memenuhi janji politiknya, juga sangat totaliter dan justru dipastikan dapat memberangus seluruh pendapat yang berbeda.

Bentuk politisasi yang dengan itu Islam ditransformasikan menjadi agama politik, merupakan isu inti yang mencuat ditengah situasi sosial yang banyak mengalami krisis panjang. Ini juga menjadi dampak akan arti Islam secara universal. Sebagai gerakan ideologi transnasional, mereka sangat mirip dengan komunis, yakni mau menata ulang dunia secara baru dalam mekanisme revolusi.

Namun, sistem Islam sebenarnya dimaksudkan untuk menjadi langkah pertama dalam proses yang bertahap. Hal penting yang menjadikan gerakan Islam politik begitu mengemuka secara global adalah adanya perluasan negara Islam untuk menciptakan tatanan dunia baru. Oleh sebab itu, revolusi yang diproklamasikan oleh gerakan Islam politis tidak hanya bertujuan untuk membentuk tatanan politik dari negara teritorial, tetapi juga digeser menuju pembaruan dunia secara luas.

Itu artinya, kelompok Islam politik ingin mengubah makna Islam universal yang abstrak menjadi internasionalisme politik Islam yang berusaha merubah dan menggantikan tatanan demokrasi-sekuler-modern yang berdaulat atas nama manusia menjadi satu Islam atas nama Tuhan.

Jadi, istilah ummah dalam pengertian kelompok Islam politik, bukan ummah dalam pengertian tradisional. Tetapi lebih diproyeksikan untuk komunitas beriman yang berciri gerakan politik dengan anggota-anggotanya yang mendukung pemberlakuan hukum Islam secara total dalam bernegara.

Sayangnya, istilah yang dipakai untuk menggambarkan gerakan ini sama sekali tidak didukung oleh al-Qur’an, sunnah, maupun sumber-sumber Islam otoritatif yang selama ini diakui secara mayoritas. Justru, pembaruan negara dan tatanan dunia baru yang mereka bayangkan, adalah tak lebih dari tradisi yang diciptakan sendiri tanpa ada contoh dalam syariat tradisional di era klasik ataupun modern.

Memang harus diakui, bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mencapai tujuan-tujuannya, tetapi yang perlu dikhawatirkan adalah mereka dapat dengan mudah membuat kerusakan dan mengacaukan banyak negara yang lalu menghasilkan suatu kerusakan yang nyata. Jadi, tujuan untuk mengganti konsepsi saat ini tentang negara-bangsa dengan konsepsi yang sama sekali berbeda (negara agama), adalah ancaman nyata bagi tatanan dunia yang ada.

Sumber
Bassam Tibi, 2012, Islamism and Islam, USA: Yale University Press.
Advertisement

Tidak ada komentar

Silahakan berkomentar sesuai artikel