Katib Aam PBNU Angkat Bicara, Terkait UAS Hina Rois Syuriah PBNU

Foto Istimewa

Islampers.com - Jateng
Beberapa bulan terakhir ini Ummat Islam dibuat geleng-geleng kepala oleh seorang Da'i lulusan Maroco asal Riau Ust Abdul Shomad, pasalnya Da'i yang satu ini menjadi fenomenal bukan karena ke'alimannya dalam menyampaikan dakwah, bukan karena kepiawaiannya menyusun kata indah, tapi karena kecerobohannya yang keluar dari sikap pongah, sepertinya ia sedang mengidap penyakit merasa paling pintar dan merasa paling alim yang menggerogoti hatinya, sehingga apa yang keluar dari lisannya tidak dapat dikontrolnya.

Belum lama ini kita sempat dikejutkan dengan sikap pongahnya yang dengan bangga dan sedikitpun tak merasa bersalah telah menghina Nabi Muhammad SAW, dengan mengatakan “Nabi tidak dapat mewujudkan Rahmatan Lil 'Alamin semasa hidupnya” dalam sebuah acara Muktamar Tokoh Ummat yang diadakan oleh HTI sekitar tahun 2016.

Kalau Nabi saja dengan enteng ia hina, apalagi Ulama?.
Dan benar saja, pekan ini kembali viral video Ust Abdul Shomad yang menghina salah satu Rois Syuriah PBNU KH.Ahmad Ishomuddin Ulama yang dihormati oleh warga Nahdliyyin se-Nusantara, dengan bahasa yang sangat tidak beradab.

Tak ayal ucapannya tersebut memancing berbagai macam reaksi dari warga nahdliyyin tak terkecuali dari Katib Aam PBNU KH.Yahya Cholil Tsaquf, beliau menanggapi kasus yang sedang viral tersebut dengan menulisnya dalam akun facebook pribadinya.

Berikut tanggapannya :

(YANG MANIS DAN YANG PAHIT)
“Di satu pihak, ada orang seperti Pak Kyai Ahmad Ishomuddin yang tenang-tenang saja bahkan bisa ketawa-ketawa geli menghadapi mereka yang menjelek-jelekkannya, mengolok-oloknya dan mencaci-makinya. Karena Pak Ishom tahu, mereka itu cuma cocomeo yang meluapkan kedengkian dan kebencian dengan aniaya kata-kata atau fitnah.

Mungkin Pak Ishom belajar dari Gus Dur dan Kyai Said Aqil Siroj yang bertahun-tahun dibegitukan orang tapi sama sekali tak terganggu perasaannya dan bisa terus menikmati hidup dengan bahagia sentosa. Fitnah, olok-olok dan caci-maki seolah-olah justru jadi hiburan penyegar hari, pemanis kehidupan.

Di pihak lain, ada yang cuma disindir secara majhul (tanpa dinyatakan identitasnya) langsung belingsatan ngamuk-ngamuk mencak-mencak jungkir-balik tak karuan. Itu karena sindirannya sesuai dengan kenyataan.

Memanglah benar kiranya bahwa sindiran yang terlalu bersesuaian dengan kenyataan itu sungguh benar-benar pahiiiittttt”. Tulisnya, Minggu (18/3/2018) Pagi 05.31 WIB.
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel