Kunci Kesuksesan Menurut Alfiyyah Ibnu Malik

Foto Ilustrasi
Islampers.com - Jakarta
بالجر والتنوين والنداء وال
ومسند للاسم تمييز حصل
Ciri-ciri kalimat Isim (kata nama) menurut Ibnu Malik adalah dapat menerima lima tanda berikut :
1. Dibaca Jarr
2. Dimasuki tanwin
3. Dimasuki huruf nida ( seruan)
4. Dimasuki partikel "al"
5. Menerima musnad ( sandaran berupa kata kerja).

Kelima ciri inilah yang dapat membedakan kalimat Isim dengan kalimat lainnya. Demikian makna harfiah dalam bait diatas.
Namun kalau kita mencoba menguak makna dari sisi yangg lain, maka akan kita temukan bahwa bait diatas sedang menjelaskan lima kunci dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pertama, ujaran bil jarri bisa dimaknai untuk terus bersikap rendah hati atau tawadlu, atau memgendalikan jiwa supya selalu mengikuti petunjuk kebenaran. 

Dalam bahasa arab : jarro yajurru jarron bermakna "menarik sesuatu agar terkendali", seperti kuda yg ditarik dari larinya atau dikendalikan dari memakan rumput.
Kedua, ujaran wat-tanwini adalah simbol keteguhan niat dan kebulatan tekad. Bila kita ingin menggapai kesuksesan dunia dan akhirat, maka sudah semestinya kita memiliki niat yang kuat dan tekad yang teguh. Meraih kemuliaan bisa diibaratkan dengan menggapai puncak gunung yang tinggi. Bila tak memiliki tekad yang kuat untuk mendaki, maka bisa jadi ketika baru mencapai setengah jalan, kita akan menyerah.

Sebuah pendakian adalah proses panjang yang pasti akan menghadapi berbagai masalah dan rintangan. Mendaki bukanlah pekerjaan mudah dan Instan. Dibutuhkan tidak hanya sekedar niat dan perencanaan, tetapi lebih dari itu keteguhan hati, kekukuhan jiwa dalam mengatur rencana dan kebulatan tekad dalam implementasi. Itulah makna tanwin
Ketiga, ujaran wan-nida adalah pesan agar kita terus mengasah nida atau panggilan hati nurani kita. Nida adalah panggilan untuk berdakwah dan terus mengamalkan ilmu. Dakwah yang menjadi panggilan hidup dan bukan tidak sekedar karena ada panggilan alias undangan.

Keempat, ujaran wa "al" yang merupakan "al" ma'rifat yang berfungsi untuk menta'rif ( mengkhususkan) isim nakirah ( kata umum) memberikan makna "spesifikasi" atau "keahlian". Artinya "al" adalah simbol pentingnya kemampuan spesifik yang dibutuhkan oleh seseeorang dalam menjalani berbagai aktivitas dan profesi apapun yang disandangnya.

Kelima, ujaran wa musnadin ( sandaran) yang memberikan pesan tentang pentingnya mendasarkan diri pada pedoman yang ditinggalkan Rosululloh Saw, yaitu Al-Qur'an dan Hadits.
Inilah lima kunci keberhasilan yang dapat kita sarikan dari bait Alfiyyah Ibnu Malik diatas.

Selanjutnya ada satu hal menarik dan layak untuk kita cermati bersama, yaitu ujaran "tamyiizun hasol" dalam bait Alfiyyah diatas.
Secara harfiah, tamyizun hasol itu artinya perbedaan yang menghasilkan. Seolah-olah bait tersebut ingin mengingatkan kita : bila kita  ingin menggapai sebuah kesuksesan, maka kita harus memiliki spesifikasi yang "men-tamyiz-kan" kualitas kita dengan orang lain. Sekali lagi, kualitas kita yang unggul bila dibandingkan dengan orang lain. [Islampers.com]

Qomari Arisandi
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel