Header Ads

Marx dan MCA

Foto Najmy Fuady

Islampers.com - Jakarta
Karl Marx memang seorang yang kontroversial. Saya mengatakannya demikian karena dari teori nya muncul berbagai macam kajian, pandangan bahkan permusuhan antar sesama manusia oleh karena perbedaan persepsi dan pandangan. Dia jadi ikon sebuah perjuangan sekaligus sebagai ikon dari sebuah perlawanan.

Dalam epistimologi keilmuan, hendaknya kita selalu mengambi hikmah dari segala sesuatunya. Terus menggali hakikat dari sebuah kebenaran. Mengambil manfaat bahkan dari yang kita anggap itu tidak berguna, atau tidak sesuai dengan apa yang kita percayai. Sederhananya jika kita ingin berjinak dengan api, maka ambilah panasnya bukan sisi perusaknya.

Begitulah jika ingin memahami apa yang disampaikan Marx. Banyak sekali pemikiran Marx yang bisa kita ambil pelajaran didalamnya termasuk bagaimana memposisikan sebuah agama dalam realitas sosial yang kompleks.

Sebagian dari kita terlanjur memandang negatif Marx oleh karena sebab satu pernyataanya “agama adalah candu” itu. Tanpa memahami apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan.

Sebenarnya jikalau kita mau berfikir dan merenung saja, kalimat Marx tersebut merupakan kritik terhadap penguasa yang sering menggunakan ayat-ayat suci (agama) dalam mempertahankan cengkraman kekuasaannya.

Sebelumnya saya tegaskan dulu bahwa saya bukanlah seorang penganut marximisme, apalagi komunisme. Tulisan ini juga dibuat bukan untuk membela ini dan itu, tapi lebih kepada kritik terhadap mereka yang suka membawa agama untuk kepentingan duniawi yang kotor.

Di Perpustakaan British Museum, tepat disebuah kursi lusuh “favorit” yang kini terpampang namanya dia menghabiskan waktu. Menulis, membaca sekaligus memikirkan nasib dari para kaum buruh yang kala itu makin terkekang oleh cengkraman para elite kapitalis. Marx gusar melihat penderitaan para buruh yang tenaga dan pikirannya diperas hanya untuk menghasilkan pundi-pundi uang para pemegang modal.

Marx hampir tiap hari datang ke pabrik-pabrik untuk mengajak para buruh melakukan “perlawanan”. Dalam bukunya Comunists Manifesto dia berkata :

“Sampai saat ini, sejarah masyarakat manapun dimuka bumi adalah sejarah pertentangan kelas. Si merdeka dengan si budak, kaum bangsawan dengan rakyat jelata, majikan dengan babu, tuan dan pesuruhnya, singkat kata, penindas dan tertindas. Posisi yang berhadap-hadapan ini akan selalu ada dan tidak bisa dibantah. Sekarang, perlahan namun pasti, akan ada “perang terbuka”, perang untuk merekonstruksi masyarakat pada umumnnya dan khususnya, untuk menghancurkan kelas penguasa.“

Pesan yang disampaikan Marx pada paragraf diatas sangatlah jelas, bahwa penderitaan pertentangan kelas ini haruslah segera dihentikan dan dicari jalan keluar nya yaitu dengan perlawanan. Sudah saatnya para buruh kala itu bergerak untuk menggapai kesejahteraan hidupnya tanpa dikte dari kaum elite kapitalis. Maka hal ini haruslah segera diakhiri dengan cara perlawanan oleh para buruh.

Namun suara Marx nyatanya tidak merubah keadaan. Marx melihat bahwa seberapa kuat dan besarnya perlawanan para buruh namun kaum elite kapitalis selalu memenangkan perlawanan itu. Hingga saking seringnya kalah dan kehilangan asa membuat para buruh menyerah. Nah pada saat-saat ini, para buruh tadi mencari “pelarian” untuk mengobati kekesalan hati mereka. Yaitu kepada agama.

Agama saat itu menawarkan sebuah “pelukan” bagi mereka yang kehilangan asa. Banyak para buruh yang kecewa lalu melarikan diri untuk mendapatkan ketenangan. Ini tentu tak salah namun yg menjadi ironi ialah hal ini dilihat oleh para kaum elite kapitalis sebagai sebuah kesempatan mereka untuk mempengaruhi para buruh.

Agama mereka pakai untuk “menina bobokan” para buruh agar terus tertidur pulas dalam cengkraman kekuasaan mereka. Ayat-ayat suci dikeluarkan untuk meredam emosi mereka agar tidak berani dalam melakukan perlawanan.

Para buruh dibuat tertidur pulas dengan ayat-ayat suci ini dan hingga lupa akan ketidakadilan yang menimpa mereka. Hingga nyenyaknya mereka tidur dalam buayan ayat-ayat suci, merekapun candu. Inilah yang menyebabkan Marx mengeluarkan pandanganya yang kontroversial “agama itu adalah candu.”

Candu yang dapat melupakan seseorang atas ketidakadilan yang menimpa mereka. Candu yang dapat meredam keinginan seseorang untuk menggapai kesejahteraan nya dan hanya tunduk pada kekuasaan yang malah membuat mereka semakin merugi.

Dulu pendapat Marx diatas dianggap sebagai angin lalu saja. Namun makin kesini, semakin permasalahan masyarakat kian komplex pendapatnya mulai mempengaruhi banyak orang dan mulai menemukan kebenaran-kebenarannya.

Kita lihat sekarang banyak para penguasa, pemilik modal, atau politikus yang menjual ayat-ayat agama kepada masyarakat hanya untuk memenuhi misi mereka masing-masing.

Salah satunya hal ini. Sebuah screenshoot pesan siaran dari grup WA membuat saya mulai meyakini apa yang Marx sampaikan itu telah terjadi di negeri kita di zaman sekarang.

MCA yang telah lama membuat resah Republik ini dikarenakan tindak-tanduknya yang sering membagikan hoax telah tertangkap. Fakta-fakta pun mulai muncul satu persatu. Mereka yang tertangkap menyesal atas tindakan yang mereka lakukan selama ini dan berpesan kepada yang lain bahwa fitnah adalah kezaliman, dan hoax bisa dikatakan sebagai fitnah.

Namun screenshoot yang beredar dan saya lihat ini seakan menyatakan sebaliknya. Para anggota MCA sendiri yang telah tertangkap menyerukan yang lain agar berhenti menyebarkan hoax eh malah seakan didewakan perbuatanya oleh orang-orang yang mendukungnya.



Entah siapa sebenarnya yang berada dibalik tersebut. Namun isi tulisan jelas untuk membuat framming bahwa MCA adalah benar-benar sebuah jalan jihad untuk menegakkan agama Allah, memberantas kedzaliman dan penindasan yang terjadi di negara ini meski dengan jalan menyebarkan hoax.

Sisi emosional pembaca juga ingin mereka sentuh dengan membawa nama-nama pejuang muslim zaman dahulu yang terkenal akan kedigdayaan-nya. Namun perlu dicatat para pendahulu kita memang nyata perjuangannya untuk Islam dan dengan senjata, bukan dengan smartphone apalagi modal hoax.

Jelas sekali mereka yang berada dibalik tulisan ini ingin membuat “candu” masyarakat dengan menggunakan agama. Padahal didalam Islam sendiri menebarkan hoax merupakan penyakit hati dan ini sangat dilarang.

Masyarakat mereka ajak untuk menuruti ajakan jihad versi mereka dengan tetap tegar untuk berjuang di MCA. Kemudian mengatakan bahwa yang berjuang di MCA merupakan perjuangan yg diridhoi Allah lalu untuk meyakinkan framming tersebut mereka tutup dengan takbir.

Persis dengan apa yang dijelaskan oleh Marx dulu. Para elite kapitalis yang ingin menjalankan misinya menggunakan ayat-ayat suci untuk mempengaruhi para buruh. Buruh dibuat seakan tidak berdaya dan candu.

Disini para pembaca juga disetting untuk dibuat sedemikian rupa. Membawa ayat-ayat suci, menyamakan diri dengan para pejuang Islam dulu hanya untuk membuat mereka yang membaca membenarkan tindakan MCA dan ikut turut ambil bagian didalamnya.

Maka sekali lagi apa yg dilakukan para kroni MCA yg tersisa ini tak ubahnya seperti yg dilakukan para elite kapitalis untuk mempengaruhi para buruhnya agar terus tunduk didalam kekuasaanya dengan memakai dalih agama.

Masyarakat haruslah berhati-hati dan jangan mau dibodohi oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan kita dengan cara seperti demikian. Agama itu terlalu suci untuk dibawa kedalam ranah duniawi yang kotor ini.

Jika memang tujuannya untuk mengkritik pemerintah maka gunakanlah cara-cara sehat. Jangan termakan candu yang akan membuat kita mabuk dalam kesalahan memahami ayat-ayat Tuhan.

Wallahu ’alam bish-shawab.

[Najdmy Fuady/Islampers]
Advertisement

Tidak ada komentar

Silahakan berkomentar sesuai artikel