Teknik Politik Dalam Peperangan Atau Pergerakan

Foto Ilustrasi
Islampers.com - 
Dalam sebuah peperangan, di berbagai medan dan area, seorang pemimpin pergerakan tak boleh menghiraukan untuk menggunakan teknik-teknik politik. Baik dalam bentuk penunggangan terhadap kekuatan yang ada ataupun memanfaatkan situasi yang dapat menjatuhkan moral lawan, melakukan pendekatan hingga menjilat, menyesatkan lawan dengan menghadirkan kekuatan di pos-pos strategis lawan ataupun di daerah-daerah lawan, mengentertain atau memberikan service terhadap orang kepercayaan lawan, dan beberapa trik yang dapat digunakan untuk menghancurkan kekuatan lawan dari dalam lingkaran mereka sendiri, atau dengan memanfaatkan kekuatan lawan dari lawan utama yang kita hadapi.

Teknik seperti memanfaatkan konflik yang terjadi di lingkaran lawan bukan hal yang tabu dalam sebuah pergerakan atau peperangan. Inilah seni dari peperangan itu sendiri, yakni menghalalkan segala cara untuk mencapai goal yang ditentukan, memanfaatkan situasi yang sudah terjadi dan membiarkannya untuk meledak serta menghancurkan lawan dengan kekuatan lain (operasi pinjam tangan).

Banyak sekali teknik politik yang bisa diaplikasikan oleh seseorang untuk berhadapan dengan kekuatan lawan yang lebih kuat dari kekuatannya, teknik politik adalah teknik yang paling efektif. Seseorang tidak perlu menggunakan kekuatan yang sama besar, atau menggunakan persenjataan serba komplit. Melainkan, hanya dengan menguasai informasi tentang lawannya, sontak mereka berpeluang besar untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Berikut adalah beberapa trik yang bisa diterapkan oleh seorang pemimpin pergerakan dalam setiap peperangan:

Pembusukan eksternal dan internal
( Sogok / suap / beli / belahTujuan dari trik ini adalah untuk merontokkan kekuatan lawan dari lingkaran mereka sendiri. Kekuatan uang, fasilitas, koneksi dan jabatan sangat efektif untuk menjalankan strategi ini. Seorang pemimpin harus jeli dalam mendapatkan informasi tentang lawan-lawannya, serta menentukan bagaimana cara untuk melakukan pendekatan kepada lawannya, khususnya orang-orang yang berpengaruh di kekuatan lawannya.

( Pemerasan (moral hazards, KKN, dll)Skandalisasi adalah trik perang intelijen. Trik ini biasanya digunakan oleh reporter infotainment dan para paparazzi untuk menjatuhkan citra seseorang, strategi ini sangat efektif dan sangat menakutkan. Untuk mengaplikasikannya, seorang pemimpin harus menggerakkan staffnya untuk mencari tahu skandal yang terjadi di lingkaran musuhnya atau orang-orang besar di lingkaran musuh mereka. Tujuan dari trik ini adalah untuk meningkatkan posisi tawar dalam bernegoisasi.Teknik ini juga dapat melemahkan moral dan kondisi psikologi lawan, khususnya pasukan lawan dan komandan lapangan atau para pejabat yang berpengaruh di lingkaran lawan. Teknik yang digunakan adalah dengan merusak moral kekuatan lawan melalui narkotika, seks, judi, miras dan memancing kekuatan lawan untuk melakukan korupsi di lingkarannya sendiri.

Dengan begitu akan tercipta konflik di dalam tubuh mereka,dan pada situasi inilah lawan berada dalam posisi yang sangat lemah dan mudah untuk dipecah belah.
( Pengurungan / isolasiJangan pernah membiarkan lawan untuk terus bergerak dan membangun kekuatan yang lebih besar, atau membiarkan lawan untuk bergerak bebas di lingkungan kawan. Isolasi lawan dari semua arah, jika perlu jangan memberikan kekuatan lawan waktu untuk memasuki link-link tertentu yang bisa menambah kekuatan moral mereka. Pada trik ini, seorang pemimpin harus jeli untuk melihat kemana arah dukungan lawan, siapa sumber logistik mereka, atau jalur komunikasi yang mereka gunakan untuk menguasai informasi.

Pembusukan di lingkaran lawan bisa juga diciptakan dengan menciptakan pengkhianat dalam organisasi vital kekuatan lawan, pengkhianat ini bertujuan untuk mengadu domba antar kelompok elit untuk saling bersaing dan mencari pengaruh yang lebih luas di lingkarannya. Tempatkan mata-mata di setiap elit lawan dan memiliki tugas-tugas khusus guna mengadu domba , mendorong elit lawan untuk saling bertikai. Tapi harus diingat, jangan sampai posisi mata-mata yang ditugaskan terpancing dengan skenario lawan. Terkadang mata-mata yang ditugaskan harus mendamaikan antara pihak yang bertikai agar mendapatkan kepercayaan dan tidak terlalu dicurigai atau membiarkan elit lawan untuk membaca skenario mereka. Menyerang struktur organisasi atau elemen vital dari kekuatan lawan.

Penguatan (sistemik, struktural) Dalam prinsip-prinsip perjuangan, banyak contoh pemimpin pergerakan dan pemimpin besar yang menerapkan prinsip ketidak teraturan dan sistem cair. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuatan yang sempurna sangat rentan untuk kalah ataupun mudah dipatahkan. Ambil contoh sebuah kayu, semakin keras dan kokoh, kayu tersebut sangat mudah untuk dipatahkan. Kemudian coba ambil sebuah bambu, lentur dan terlihat tidak teratur, tetapi sangat sulit untuk dipatahkan.

Teknik inilah yang dimaksud dengan penguatan, yaitu menghancurkan lawan dengan terlebih dahulu memancing musuh untuk menjadi kuat secara sistemik ataupun struktural. Pada situasi ini, kekuatan musuh sangat mudah untuk dibaca dan tentunya dikendalikan. Mengapa ? Karena jika musuh kuat secara sistem komando dan strukturnya tertata rapi, tentunya sangat mudah untuk mencari sumber-sumber informasi yang berkaitan dengan dapur strategi mereka, bahkan untuk mendapatkan sebuah informasi rahasia atau data dengan klasifikasi A1 dari musuh. Namun, jika pengolahan data pada organisasi justru tidak tertata rapi dan terkesan cair, data rahasia pun tidak bisa keluar atau dilacak dengan sangat mudah.

Banyak jalan untuk bermain pada tataran perang konvensional, perang informasi dan perang total. Meskipun strategi yang diterapkan berbeda, namun sasaran utama dari seorang pemimpin perang adalah mencapai kemenangan dengan sangat efektif dan menggunakan logistik dan tenaga seminimal mungkin. Maka tak heran jika banyak pemimpin yang berusaha menyerang titik strategis lawan, yakni struktur organisasi dan sistem kendali. Target utama yang diserang adalah jalur politik lawan.Baik dalam bentuk merusak organisasi lawan dengan terlebih dahulu mengetahui jalur kelemahan lawan melalui lawan politik mereka ataupun kekuatan yang berpotensi untuk berkonflik dengan lawan, jalur pendukung ataupun jaringan elit lawan yang bisa dijadikan pengkhianat.

Metode yang digunakan tak lain adalah dengan menjalankan politik uang dan informasi. Contohnya saja di Indonesia, banyak pejabat yang terjebak dengan kekuatan konparador yang memainkan bisnisnya di lingkaran pemerintahan, skandal pun terjadi dimana-mana dan sistem birokrasi hancur. Kebocoran informasi dan rusaknya jalur logistik pemerintah adalah efek yang ditimbulkan dari permainan ini.Menghantam kekuatan politik lawan biasanya juga diaplikasikan pada saat damai. Seorang pemimpin harus terus mempertahankan pola pikir negatif (negatieve denken) terhadap para pesaingnya (lihat tabel : The Negatieve Denken). Pasalnya, setiap pesaing berpotensi untuk melakukan serangan, itulah mengapa pola pikir negatif serta asumsi-asumsi negatif harus tetap ada dalam catatan seorang pemimpin. Dan pada saat damai, seorang pemimpin harus menciptakan kekuatan-kekuatan penyeimbang, mendorong adanya kekuatan oposisi dan menjadikan mereka menjadi kekuatan besar dalam sebuah kendali tidak langsung. Artinya jangan sampai kekuatan tersebut mengetahui bahwa mereka berada dibawah kendali kita.

Tujuan dari itu semua adalah untuk memudahkan kita menghancurkan kekuatan tersebut jika ternyata kekuatan tersebut tidak memberikan efek positif terhadap kekuatan kita, dan ketika suatu saat mereka justru berbalik menyerang kita.Termasuk jika ada kekuatan politik yang berada dalam kondisi lemah dan tidak memiliki kekuatan, seorang pemimpin harus berusaha untuk merangkul kekuatan tersebut dan merenovasi sistem organisasi mereka. Ketika mereka kuat, seorang pemimpin juga dapat dengan mudah menghancurkan kekuatan tersebut. Karena apa? Karena pemimpin yang merenovasi organ tersebut tahu betul dimana titik lemah organisasi itu dan sudah menyiapkan skenario untuk mematikan gerakan politik mereka dengan satu tombol. Teknik politik inilah yang sering dimainkan oleh kelompok Freemason seperti George W Bush pada Perang Irak, serta tokoh Freemason lainnya.

Menghantam kekuatan paling inti.
Strategi penyerangan yang sangat efektif adalah menghantam inti dari kekuatan lawan, untuk masuk ke dalamnya memang sangat sulit, disinilah seorang pemimpin harus tepat dalam menugaskan staff atau personilnya guna melakukan infiltrasi ke kekuatan paling inti musuh. Untuk masuk kedalam kekuatan paling inti, kita harus berhasil menguasai informasi tentang musuh. Manfaatkan tenaga hacker, pencuri ulung, narapidana ataupun orang yang memiliki jaringan kuat di lingkaran musuh. Termasuk menjalin kerjasama taktis dengan pihak-pihak asing yang dibayar untuk melakukan pendekatan kepada perwira musuh. Metode entertainment, hiburan, dan uang sangat efektif dalam mengaplikasikan strategi ini. Ingat, jangan pernah menggunakan tenaga dan kekuatan kita untuk menjalankan strategi ini, usahakan untuk menggunakan tenaga dan kekuatan pihak lain, jangan pernah segan untuk membayar tenaga mereka agar pada suatu saat nanti musuh mengetahui bahwa mereka sedang diserang, musuh tidak melihat keterlibatan kita.

Sebelum musuh berasumsi atau sempat berpikir bahwa kita menyerang, segera mobilisasi intelijen untuk menyebar propaganda yang sifatnya menyesatkan, manfaatkan wartawan atau pemilik media yang sudah kita galang dan persiapkan untuk membuat counter isu untuk menutupi keterlibatan kita.

Tapi jika kondisi berbalik, yakni musuh tidak sadar bahwa staff yang kita tugaskan ternyata sudah masuk dan mendapatkan pengaruh di lingkaran mereka, barulah skenario –skenario politik dijalankan. Target utama adalah menghantam kekuatan paling inti dari kekuatan musuh, yaitu jalur politik dan kendali informasi mereka.Untuk memecah belah jaringan politik, langkah yang sangat efektif adalah dengan menciptakan tokoh-tokoh berpengaruh agar tercipta persaingan yang ketat diantara kekuatan musuh. Perintahkan staff untuk berada di belakang perwira musuh serta mendorong munculnya ambisi mereka untuk menjadi orang nomor satu atau orang yang paling berpengaruh. Setelah itu, biarkan mereka menjalankan skenario mereka sendiri-sendiri. Pada saat konflik terjadi, perintahkan elemen media massa untuk menggelembungkan satu orang penting di kalangan musuh agar menjadi terkenal dan mengarahkan dukungan massa kepada orang tersebut. Ingat, dalam politik, orang yang paling dikultuskan dalam sebuah organisasi sangat rentan untuk memancing perwira atau elit lainnya untuk bersama-sama saling menjatuhkan.

Sabotase jalur politik lawan, biarkan peperangan diantara mereka menjadi besar, jika memungkinkan manfaatkan media massa sebagai elemen vital untuk memprovokasi para pihak dengan berita-berita sensasional. Pada tahapan ini, konon jalur logistik lawan terpecah belah dan menjadi tidak teratur.

Ketika konflik menjadi besar, sebar staff intelijen kita atau personil yang sudah mendapatkan tugasnya masing-masing untuk terus mengkondisikan konflik yang sudah terjadi di lingkaran paling inti lawan. Dorong lawan untuk saling bertikai dengan memotivasi mereka untuk terus saling berebut pengaruh serta memancing mereka untuk menghalalkan segala cara. Terus adu domba kekuatan lawan, khususnya para perwira yang memegang kendali pasukan untuk memancing terjadinya perlawanan dari pasukan dan ketidakpatuhan pasukan lawan. Kemudian untuk melemahkan dukungan terhadap kekuatan lawan, sebarkan kebohongan publik tentang para perwira berikut bukti otentik yang sudah ada ditangan kita melalui media massa. Tujuannya adalah untuk memperbesar terjadinya konflik di tingkatan elit, konon konflik ini tentunya akan menimbulkan ketidakpercayaan publik pada pimpinannya dan menstimuli kebencian massa kepada pimpinannya.

Ketika situasi ini terus berkembang dan menjadi besar, pasukan kita tidak perlu bergerak untuk menyerang, melainkan membiarkan kekuatan lawan hancur dengan sendirinya dan tidak mendapatkan dukungan dari massa. Kita hanya perlu memenangkan simpati massa dengan menciptakan calon pemimpin baru yang berada diluar lingkaran elit lawan untuk tampil ke permukaan. Manfaatkan kebencian massa untuk menjatuhkan pimpinan mereka dan mobilisasi media untuk menggalang dukungan pada calon pemimpin baru ini, dengan demikian, kekuatan lawan sudah berada dalam kendali kita.Harus diingat, strategi ini hanya diterapkan dalam kondisi damai, sebab dalam keadaan perang, kondisi kekuatan musuh akan sangat solid dan tidak mudah untuk diinfiltrasi.

Teknik politik lain yang dihalalkan dalam setiap peperangan.

( Pertunjukan / performance / theatreYang dimaksud disini adalah bagaimana seorang pemimpin mampu menjatuhkan kondisi psikologi lawan melalui gelar pasukan, gelar senjata dan gelar aliansi. Teknik ini diterapkan oleh Hitler saat memimpin pasukan Jerman untuk menguasai seluruh Eropa.

( Legenda / mitos / hagiografiHitler juga berhasil membangkitkan semangat nasionalisme pasukan dan rakyatnya untuk terus berjuang melalui mitos bahwa mereka adalah keturunan suku paling mulia, suku arya, maka dari itu masyarakat Jerman pun bangga akan diri mereka dan menganggap bahwa mereka memang diciptakan oleh Tuhan sebagai ras unggulan.

( Pem ”boneka”-anCiptakan artis, tokoh andalan yang disiapkan untuk menjalankan setiap skenario yang kita siapkan untuk menyesatkan musuh. Kendalikan tokoh tersebut untuk terus berada dalam pengawasan kita dan usahakan untuk menggunakan beberapa orang pelapis untuk menurunkan perintah agar musuh tidak mudah untuk menebak siapa yang menjadi remote sesunguhnya.

( Pengkambing hitamanTeknik ini adalah teknik yang biasanya digunakan untuk menutupi skenario yang sedang kita jalankan, atau ketika musuh mencari tahu siapa aktor yang sesunguhnya. Kambing hitam adalah aktor yang sudah kita siapkan untuk mengakui tindakan yang sebenarnya tidak dilakukannya, atau orang yang sudah kita siapkan untuk kita jadikan korban dari permainan yang kita mainkan, serta orang yang kita biarkan terlibat dalam setiap aksi dan kita jadikan tumbal.

( Pemusnahan /solusi finalTeknik ini adalah teknik akhir yang digunakan jika musuh sudah berada dalam kondisi kalah. Pemusnahan sangat penting untuk mengantisipasi agar musuh tidak membangun kembali kekuatan mereka yang terpecah dan justru berbalik menyerang kekuatan paling inti dari kekuatan kita dengan melakukan penyesatan.

( Penekanan (stressing)Teknik ini adalah teknik yang digunakan untuk membuat musuh selalu berada dalam keadaan yang tertekan dan tidak terfokus pada setiap aksi yang dilakukannya. Untuk menerapkan teknik ini, kita perlu mempertontonkan kepada mereka serangan-serangan kecil yang kita lakukan terhadap pos-pos kekuatan mereka, memanfaatkan media untuk melakukan propaganda yang dapat menjatuhkan lawan, serta menciptakan skandalisasi di tubuh lawan. Buat kekuatan lawan selalu berada dalam situasi konflik dan situasi tertekan agar mereka tidak mudah membaca strategi yang kita aplikasikan.

( ‘Dorong - putar balik’ dan ‘berjalan seiring berbelok kemudian’Teknik ini lebih pada teknik penghancuran secara bertahap, yakni dengan mendorong kekuatan musuh atau perwira musuh untuk melakukan serangan terhadap kekuatan lawannya, usahakan kita berada pada posisi mendukung. Berpura-pura memberikan dukungan kekuatan dan membantu dalam menyusun strategi penyerangan, dan ketika perang terjadi, kita justru mendukung kekuatan lawan mereka atau tidak sama sekali terlibat dalam peperangan. Artinya, dalam peperangan ini kita bermain di dua atau tiga kubu dan mengambil manfaat dari peperangan yang berhasil diciptakan.

( Frontal – mundur – ‘desa mengepung kota’ – sikat (hancurkan)Teknik ini selalu diterapkan oleh militer Cina, dimana mereka selalu memobilisasi pasukannya dalam jumlah besar dan pasukan selalu disiapkan pada posisi siap menyerang. Para pemimpin mereka terus menjalankan strategi berlapis maju-mundur untuk mengelabui pasukan garis depan musuh. Sementara pasukan lain di luar garis depan justru mengkonsentrasikan kekuatan di pos-pos terluar musuh dan maju secara bertahap. Disaat konsentrasi kekuatan berhasil mengepung benteng utama, barulah mereka melakukan penyerangan secara bersama-sama ke pusat kota.

( Frontal – defensifTeknik ini biasanya digunakan ketika kekuatan kita lemah, namun jangan sampai lawan mengetahui bahwa kekuatan pasukan kita lemah. Untuk mengelabui musuh, usahakan pasukan garis depan memperlihatkan bahwa mereka siap menyerang dan berada dalam kondisi yang kokoh. Tapi jangan melakukan serangan, melainkan secara bertahap melakukan penyerangan ke daerah lawan sedikit demi sedikit. Ketika lawan maju menyerang, terapkan posisi defensif dan pertahankan teritori yang sudah dikuasai. Usahakan siapkan pasukan cadangan untuk menggantikan pasukan depan yang terluka atau sudah berada dalam kondisi lemah.

( Ofensif Teknik ofensif dilakukan ketika seluruh elemen kekuatan berada dalam kondisi yang benar-benar kuat.

( Teknik VOC dan kekuatan imperialis di jaman penjajahan.
Untuk mencari cadangan logistik, konon Kerajaan Belanda membiayai kongsi dagang Belanda, Verenidging Oost Indische Company (VOC), untuk mencari sumber kekayaan dengan melakukan invasi. Bukan hanya Belanda, begitu juga dengan Inggris dan kekuatan yang dahulu kala masuk ke Indonesia.

Mengapa mereka bisa diterima oleh masyarakat dan berhasil mengeksplorasi sumber kekayaan alam dari bangsa kita waktu itu? Konon, dari analisa historis, ditemukan adanya beberapa teknik politik yang digunakan oleh kekuatan sekutu untuk mengeksplorasi sumber kekayaan kita.Yakni dengan menjalankan sistem kontrak yang sama-sama menguntungkan. Kekuatan imperialis ini memanfaatkan kebodohan dan keterbelakangan bangsa kita untuk mengendalikan wilayah, penduduk, sumber daya, keuangan, komitmen dagang dengan raja-raja, dan yang paling vital adalah menguasai jaringan kerajaan dengan memanfaatkan ambisi raja-raja untuk mendapatkan pengaruh dan wibawa.

Konon, bangsa kita waktu itu tak pandai berdagang sebelum banyak kekuatan imperialis hijrah ke Indo Cina. Kekuatan dagang sangat bermain disini untuk mendapatkan keuntungan yang besar, yaitu dengan mendidik penduduk agar menjadi pandai dan bekerja untuk mereka agar mendapatkan sumber daya yang bisa dijual di pasar internasional. Freeport dan Blok Cepu adalah warisan dari teknik ini.Kekuatan imperialis juga lihai dalam memanfaatkan konflik yang ada di bangsa kita, bahkan memanfaatkan kelemahan mendasar dari bangsa kita. Diantaranya adalah melemahkan elit bangsa kita yang waktu itu masih berbentuk kerajaan, yaitu dengan memanfaatkan disloyalitas elit atau raja-raja yang waktu itu masih saling berebut pengaruh dan memanfaatkan pertengkaran antar kerajaan yang ada. Situasi ini berhasil dimainkan untuk menyebarkan intrik dan gosip di kraton (binzantiunisme) agar para raja berusaha menghimpun kekuatan dan membayar jasa pengamanan dari kekuatan imperialis yang harus diakui lebih canggih pada waktu itu.

Berdasarkan kebutuhan yang berhasil diciptakan oleh kekuatan imperial inilah, yakni kebutuhan finansial untuk kerajaan dan kebutuhan keamanan untuk pertahanan, disinilah para raja harus merelakan kekuatan imperialis mengeksplorasi sumber daya alam yang dimiliki oleh para raja di teritori mereka dan menukarnya dengan penempatan pasukan di beberapa titik pertahanan.Kekuatan imperialis juga memanfaatkan situasi yang sudah ada, yakni kelemahan para raja yang tidak menguasai ilmu kepemimpinan, kelemahan intelektual para elit, dan keterbelakangan teknologi, serta yang paling efektif adalah dengan memanfaatkan emosional elit waktu itu yang terkesan temperamental, dimana pada waktu itu para elit lebih mengutamakan kekuasaan dan pengaruh sehingga memelihara budaya iri dan dengki serta ambisi untuk saling menjatuhkan.

Masih banyak teknik politik yang bisa diterapkan dalam setiap peperangan atau dalam berkompetisi, dalam perang terkadang seorang pemimpin atau pesaing selalu menghalalkan segala cara, meskipun mereka terkadang menggunakan berbagai macam kedok, termasuk kedok moral, untuk menutupi skenario mereka. Ciri khas dari teknik politik yang dimainkan oleh tokoh politik, elit dan birokrat di Indonesia justru lebih elaboratif dari teknik politik Machiavelli. Artinya , banyak teknik politik di Indonesia yang menghalalkan cara-cara yang menurut Machiavelli haram untuk dilakukan. Dan ini sudah berjalan di Indonesia semenjak jaman kerajaan dulu. [Islampers.com / R Izzad]
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel