Upacara Mapag Dewi Sri Adat Bersendi Syari'at, Syari'at Bersendi Kitabullah

Foto Istimewa

Islampers.com - Kendal
Sebenarnya apa yang didhawuhkan oleh Guru Mulia KH Said Aqil Siroj tentang upacara Mapag Dewi Sri bukanlah hal baru, dan sudah lazim dilakukan sejak jaman dulu kala, ketika awalul muslimin menginjakkan kakinya di tanah Jawa.

Mapag Dewi Sri bukanlah ajaran Mbah Said seperti yang ditudingkan. Beliau hanya menjelaskan atas apa yang telah dipraktekkan secara turun temurun, telah berjalan sekian puluh generasi selama ratusan tahun.

Lalu bagaimana Islam menyikapi hal ini? Pendekatan paling gampang penjelasannya ialah apa yang telah dipraktekkan sendiri oleh Sayyidina Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yang Mulia tidak memberangus tradisi jahiliyah yang ada, melainkan memeliharanya dan memasukkan nafas-nafas Islam di dalamnya.

Sebagai contoh: Thowaf. Jaman jahiliyah, orang mengelilingi Ka'bah dengan telanjang. Oleh Kanjeng Nabi, kegiatan tersebut dibiarkan tetapi jangan sampai telanjang. Maka diramulah tradisi jahiliyah itu menjadi Islami. Bahkan Ka'bah itu sendiri, bentuknya berubah ukuran karena pembangunan yang kurang dana ketika beliau usia 35 tahun hingga diangkat sebagai Rosul.

Artinya, beliau tahu persis sejarah, hingga bentuk Ka'bah sesuai aslinya. Namun hingga akhir hayat tidak pernah sedikitpun mengubahnya. Dibiarkan bentuk tersebut apa adanya sesuai dengan kemampuan bangsa Quraisy ketika memperbaikinya. Padahal, Ka'bah adalah Baitullah, dan menjadi arah kiblat bagi seluruh kaum Muslim sedunia.

Begitupun dengan Aqiqah. Jauh sebelum Kanjeng Nabi terlahir, tradisi keagamaan lokal sudah melakukannya. Caranya dengan menyembelih binatang tertentu, entah singa gurun atau kuda perang, atau onta pilihan, kemudian darahnya dimandikan anak yang diaqiqahi.

Oleh Kanjeng Nabi, aqiqah tetap diperbolehkan, tetapi yang disembelih cukup kambing saja. Darahnya dibuang, dagingnya bisa dinikmati oleh keluarga dan handaitolan. Tentu diberikan juga doa-doa terbaik untuk anak yang diaqiqahi. Sangat indah, bukan?

Ketika Islam hadir di Nusantara, terutama di Jawa, bangsa ini bukanlah bangsa primitif, terbelakang dan bodoh. Bangsa Jawa telah mengenal peradaban sangat maju dalam segala bidang. Salah satunya ialah adanya kepercayaan bahwa penjaga padi adalah Mbok Dewi Sri.

Oleh Para Wali, kegiatan tersebut ditelaah. Dalam tradisi Jawa, Mbok Dewi Sri dipercaya sebagai Dewi Kesuburan, menjaga padi. Ketika akan panen (sebenarnya ritualnya sejak akan menggarap sawah, bukan hanya panen saja) maka masyarakat akan mengadakan upacara berterimakasih, sekaligus mohon ijin kepada Dewi Sri untuk memindahkan padi dari sawah ke lumbung padi.

Lalu dibuatlah sesaji, nasi tumpeng, bunga, bakar menyan dan berbagai perlengkapannya. Setelah dibacakan berbagai japa mantra, maka persembahan tersebut ditinggalkan di sawah, dan keesokan harinya panen raya dilaksanakan.

Dalam konsep Islam, Gusti Allah SWT menugaskan Malaikat Mikail AS untuk menjaga kelangsungan makhluk bumi. Artinya, memang Gusti Allah menjadikan wasilah Malaikat dalam hal ini. Umat Islam juga diwajibkan bersyukur atas segala nikmat yang dianugerahkan.

Adapun segala bentuk sesaji tidak ada ada yang bertentangan dengan syariat Islam. Justru para wali-lah yang mengajarkan, supaya perlengkapannya tidak hanya satu, tapi berjumlah tujuh. Tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu. Dengan harapan, supaya kita senantiasa memperoleh pituduh (petunjuk yang benar), pitutur (nasehat yang baik), dan pitulungan (pertolongan). Jika panen raya secara bersama-sama, sesaji berjumlah jauh lebih banyak lagi.

Japa mantra diganti dengan doa-doa sesuai syariat Islam. Sesaji yang ditinggal di sawah dalam Islam adalah sebuah kemubadziran, karena itu dibuat lebih banyak. Setelah selesai didoakan, bisa dimakan bersama-sama. Diniati syukuran dan shodaqoh. Setelah itu keesokan harinya diadakan panen raya.

Akhirnya, panen berjalan dengan lancar, syariat Islam tidak ada yang dilanggar, syiar berjalan, dan Islam diterima mayoritas masyarakat Jawa. Masalah nama tidak perlu dipertentangkan. Setelah masyarakat Jawa menjadi Islam, pastinya sudah faham bahwa Dewi Sri adalah dongeng dan tidak ada masalah jika namanya tidak diganti. Tetap dengan sebutan Mapag Dewi Sri.

Yang jelas, doanya tetap kepada Gusti Allah, diiringi dengan sholawat, istighotsah, dan shodaqoh. Demikian pula dengan acara Sedekah Bumi, Nyadran dan berbagai acara adat lainnya. Maka jadilah kekuatan dahsyat dalam Islam Nusantara: adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah. Hingga kini tidak bisa ditembus dan dipecah belah.

Jadi, tidak ada yang salah dari dhawuh Guru Mulia KH Said. Beliau hanya menyambungkan apa yang telah diajarkan oleh para wali terdahulu. Saatnya kita bergandengan, bersatu padu mengambil hikmah dari semua tuduhan yang dihujamkan kepada amaliyah NU, Ulama NU dan organisasi NU.

Salah satu hikmahnya ialah: supaya Santri dan Kyai tidak berpangku tangan,  apalagi menjadikan Kitab-Kitab mahakarya para Ulama Mushonnif Al Mukhlashin sebagai pajangan semata. Tapi sudah mulai membuka kembali peninggalan berlian-berlian terindah yang masih kita warisi tersebut.

Shuniyya Ruhama
Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah-Weleri Kab. Kendal [Islampers.com]
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel