Amin Rais Hina Allah Dengan Menyebut PAN PKS dan Gerindra Partai Allah

Foto Ilustrasi
Islampers.com - Yogyakarta
Sejak kapan nama Allah disandingkan dengan kata ‘partai’? kita bisa langsung tahu jika pelekatan dua istilah itu terjadi dalam beberapa waktu yang lalu ketika ada salah seorang tokoh senior politisi Indonesia yang membuat dikotomi kontradiktif antara partai Allah dan partai setan. Dalam perspektif positif thinking, boleh jadi dia sedang melakukan serangkaian uji nyali dalam mengkampanyekan Islam yang rahmatan lil alamin, lebih-lebih di tubuh partai itu sendiri.

Kita pun tahu jika Indonesia bukanlah negara sekuler, prinsip sekularisme mengandaikan terjadinya dikotomi antara partai Allah (Tuhan) dan partai setan, hukum Tuhan dan hukum manusia, urusan agama dan urusan duniawi, sesederhana itu. Partai Tuhan dan hukum Tuhan pun hanya boleh bergerak di wilayah-wilayah kecil seperti tempat peribadatan dan upacara-ucapacara keagamaan, ia tak boleh masuk ke ranah politik praktis. Sesederhana itulah paham sekularisme dipraktikkan dalam institusi bernama negara.

Pertarungan politik praktis memang sungguh sangat mengerikan, saking ngerinya apapun boleh dan apapun bisa dilakukan, hanya butuh sedikit uang yang tentunya jauh melebihi nominal kebutuhan kita sehari-hari, guna mengendalikan situasi politik bahkan ketika rakyat tak butuh uang sama sekali. Ironis, tapi begitulah wajah nista politik praktis di mana pun ia berada, termasuk di negeri ini.

Kita hanya tahu kalau Tuhan pemilik segala sesuatu, yang bentuk normatifnya berupa agama, bahkan ketika Tuhan tak butuh agama sama sekali. Justru kita yang seringkali tak mengerti mengapa pula kita butuh agama, toh ada sesuatu yang lebih penting dibalik kata ‘agama’ yang penuh kefanaan itu. Tapi sudahlah, hal-hal semacam ini tak perlu diperdebatkan, hanya kita dan Tuhan saja yang tau.

Kembali ke problem awal, jika ada dikotomi antara partai Allah dan partai setan, itu artinya kita sudah dapat membuat pengandaikan, ternyata pertarungan politik yang tampaknya sehat ini-dengan sedikit kegaduhan-kegaduhan kecil-tak lain dari suatu pertarungan maha dasyat antara sang pencipta dengan setan sang raja kegelapan.

Tapi, jika setan itu ciptaan Allah, mengapa pula ia harus bertarung dengan ciptaannya, pasti endingnya mudah sekali ditebak. Agar sulit ditebak, mari kita libatkan manusia di dalamnya, wabil khusus sebagian manusia Indonesia hari ini yang sedang genting-gentingnya menjagokan salah satu dari sekian calon pemimpin negeri untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Ada sebuah ungkapan dasar dalam interaksi sosial yang dapat memahami watak alamiah manusia, yakni jika seseorang membenci orang lain, maka orang lain itu apapun bentuk perilakunya pasti akan dibenci oleh seseorang tersebut, meski tidak semuanya, tapi sebagain besar melakukannya.

Seseorang yang tampak baik, tidak akan pernah menjadi benar-benar baik di mata musuh-musuhnya. Rumus dasar ini dapat menjelaskan bentuk interasi manusia di mana pun dan kapan pun.

Jika rumusan dasar ini kita tarik ke ranah pertarungan politik di mana semua partai memiliki misi-misi yang berbeda satu sama lain, khususnya dalam penyelenggaraan suatu negara, maka satu partai dengan partai yang lain, akan bertarung dengan berbagai macam cara agar kemenangan dapat dicapai. Bila satu partai telah mengalami kemenangan, maka lahirnya apa yang disebut sebagai bibit-bibit kebencian.

Di negara mana pun, partai oposisi pasti selalu ada, kehadiran partai oposisi tidak hanya penting tetapi juga sangat perlu sebagai penyeimbang dalam mengiringi suatu periode kepemimpinan yang dianggap tak becus dalam mengurus negara, atau paling tidak berbeda dalam hal visi-misi memajukan negaranya.

Persis hal seperti inilah yang terjadi di Indonesia saat ini, ketika kelompok koalisi partai yang sedang berkuasa selalu saja diganggu oleh partai oposisi dengan menganggap penguasa telah melakukan kebijakan yang sewenang-wenang, ingkar janji dan membuat serangkain kebijakan yang tak dapat menjamin kesejahteraan rakyat kecil.

Sederhananya, ada dua kelompok yang saling berseteru, di mana kelompok oposisi begitu ekstrem melawan musuhnya-musuhnya bahkan sampai nama Allah dibawa-bawa ke panggung politik yang penuh kekotoran ini. Tidak ada politik yang bersih, tapi jangan dikira kekotoran itu tidak dapat dibersihkan, paling tidak kita masih punya peraturan-peraturan baku secara konstitusional yang dapat membersihkannya.

Tapi benarkan hukum dapat menjamin perilaku politik yang bersih dan dapat dipercaya? Paling tidak, jika toh hukum tak mampu menjamin, kita masih punya masyarakat sipil yang begitu bersih dari tangan-tangan kotor politisi, karena sipil adalah sesuatu yang hidup dan peraturan-peraturan lebih merupakan benda mati yang hidupnya dapat mengarah ke hal positif atau bahkan sebaliknya.

Politik itu tidak mungkin benar-benar bersih, tidak mungkin suatu lembaga tertentu benar-benar bersih, jika masih terselip ‘kepentingan-kepentingan’ tertentu di dalamnya. Jadi sangat relatif untuk menentukan bentuk kebijakan seperti apa yang dapat memajukan negeri dan memakmurkan rakyatnya, tergantung sudut pandang dan dari wilayah mana kita melihat.

Prinsip dasar dalam penyelenggaraan suatu negara adalah ketika rakyat terjamin kebebasannya, terjamin kesejahteraannya dan terjamin pula keamanannya. Semua orang dapat berdebat tentang bagaimana jaminan-jaminan itu dapat dicapai, yang pada akhirnya kita sering terjebak dalam mekanisme pelaksanaan ketika tujuan masih jauh panggang dari api.

Begitulah kira-kira yang terjadi dalam situasi panas perpolitikan Indonesia hari ini. Pertarungan sengit antar partai menjadi tidak terduga, meski ini sangat wajar dan betapa meriahnya demokrasi kita yang begini ini, tapi kita perlu ingat bahwa ini bukan tujuan kita dalam mencapai cita-cita Indonesia, betapa ruginya jika ini terjadi berlarut-larut atas nama kepentingan yang tidak jelas, bahkan sampai membawa-bawa nama Tuhan dalam pertarungan yang tak seberapa ini, malu sekali kita dengan sang pencipta dan betapa tidak becusnya cara-cara kita dalam mengurus negara.

Sekali lagi, Indonesia bukanlah negara sekuler, bukan pula negara agama. Maka tak perlu mencatut nama Tuhan untuk urusan duniawi ini. Kita punya Undang-undang, punya seperangat alat di mana semua telah sepakat bahwa itulah yang akan mengantarkan kita pada cita-cita Indonesia.

Biarlah Tuhan bergerak di balik layar, sebab dengan itu Tuhan menjadi tidak terbatas dalam membantu kita memperbaiki negeri ini.

Bukan lalu membuat dikotomi polemis seakan-akan pertarungan politik di negeri ini merupakan pergolakan antara Tuhan melawan setan sebagai musuh di mana manusia berada di kubu Tuhan, tapi toh ini tidak akan pernah terjadi karena sejatinya musuh setan hanyalah manusia. Tuhanlah yang mengendalikan pertarungan kedua kubu itu, antara manusia dan setan. Antara satu partai dengan partai lain yang di dalamnya setan sama-sama berusaha menggerogoti kedua belah pihak, tanpa kita sadari.

Rohmatul Izad, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. [Islampers.com]
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel