GP Ansor : Banyak Masyarakat Diam, Kelompok Radikal Semakin Kuat

Foto Jpnn.com
Islampers.com - Jakarta
Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Saiful Rahmat Dasuki mengingatkan semua kalangan tentang gerakan terorisme di Indonesia sudah sangat membahayakan. Bahkan, para pendukung terorisme juga ada di berbagai kalangan termasuk birokrat dan pegawai badan usaha milik negara (BUMN).

Menurut Saiful, terorisme ibarat gunung es karena yang tampak di permukaan sebagian kecil saja atau lima persen. “Sisanya adalah yang terendam dan tak terlihat yang sangat berpotensi menjadi teroris," kata Saiful dalam dalam diskusi yang digelar Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (ALMISBAT) di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (29/5).

Diskusi didahului pemutaran film dokumenter bertitel Prison and Paradise karya sutradara Daniel Rudi Haryanto. Film itu menceritakan tentang pelaku dan korban Bom Bali I.

Saiful yang juga ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jakarta Selatan menambahkan, masyarakat harus makin waspada dan ikut serta untuk mengatas radikalisme. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memilih diam dan tidak merespons gerakan-gerakan radikal di lingkungan terdekat.
Nanang Pudjalaksana (paling kiri selaku moderator) dalam diskusi yang menghadirkan sutradara Daniel Rudi Haryanto (memegang buku), Syaiful Rahmat Dasuki (berpeci) dan peneliti senior LP3ES Rahadi T Wiratama dalam diskusi tentang terorisme di kantor DPN ALMISBAT, Tebet Jakarta Selatan.
Menurut Saiful, sikap diam masyarakat itu ikut menyuburkan radikalisme yang berpotensi berkembang menjadi terorisme. “Paham radikal ini mendapat ruang untuk tumbuh dan membesar," tuturnya.

Lebih lanjut Saiful mengutip hasil riset Alvara Research Center yang menemukan 23 persen responden dari kalangan milenial setuju dengan ide tentang negara khilafah. Bahkan, lima persen di antaranya menyatakan sangat setuju tentang gagasan negara khilafah.

Saiful menambahkan, pemahaman mengenai agama yang hanya mengacu tekstual merupakan salah satu faktor yang memengaruhi maraknya gerakan radikal berbasis agama belakangan ini. Padahal, kata Saiful, setiap teks pasti ada konteks dan asal-usulnya.

Karena itu Saiful mencontohkan cara santri-santri Nahdatul Ulama (NU) yang memahami Alquran dan hadis dengan bimbingan para kiai yang belajar dari ulama-ulama sebelumnya. “Bukan melalui perangkat gadget dan internet seperti yang selama ini banyak terjadi,” urai Saiful.

Di tempat sama, peneliti senior LP3ES Rahadi T Wiratama mengatakan bahwa terorisme di Indonesia juga dipengaruhi oleh faktor dinamika politik internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, gejolak politik di sejumlah negara Islam seperti Afghanistan, Mesir, Libya, serta Suriah akhir-akhir ini relatif berhasil menarik kalangan muslim dari berbagai negara termasuk Indonesia untuk menjadi kombatan.

Padahal, kata Rahadi, pergolakan yang berlangsung sejumlah negara di Timur Tengah bukan persoalan agama, melainkan politik. Bahkan, yang terjadi di Afghanistan dan Palestina adalah gerakan nasionalis prokemerdekaan.

“Namun, bingkai yang kemudian muncul adalah bias bahwa yang terjadi adalah perang agama atau antara umat Islam dan non-Islam. Bias ini tentu sangat berbahaya,” urai Rahadi.

Pada kesempatan yang sama, Daniel Rudi Haryanto menyatakan, filmnya didedikasikan sebagai bentuk perlawanan kita terhadap terorisme. Dia berupaya mengikis terorisme melalui kebudayaan.

“Di dalamnya kita dapat melihat betapa berbahayanya paham mereka (pelaku Bom Bali I, red). Di sisi lain, kita juga melihat bagaimana istri dan anak-anak mereka harus menanggung akibatnya secara sosial. Juga duka mendalam yang dialami oleh korban dan keluarganya seumur hidup,” kata Daniel. [Islampers.com]


Source : Jpnn.com
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel