Fenomena Belajar Agama di Internet Dapat Melahirkan Pemikiran Merasa Paling Islam

Foto Ilustrasi
Islampers.com - Jateng
Ada apa dengan cara beragama kita  hari ini, mengapa begitu marak orang-orang yang belajar agama di internet. Padahal, umumnya internet dianggap sumber yang kurang begitu otoritatif dalam hal pembelajaran agama. Memang, internet menyuguhkan segudang informasi dan pengetahuan yang begitu lengkap, tetapi belajar agama tanpa berguru langsung kepada ahlinya, bukanlah cara yang bijak dan tak bisa disebut belajar secara otodidak.

Agama bukanlah sepaket keilmuan teknis yang selalu bisa dipelajari sendiri. Berbeda dengan otomotif dan pengetahuan umum lainnya, orang bisa belajar secara otodidak dan hanya butuh belajar dan kerja keras untuk menggapai ilmu dan keahlian itu. Belajar agama, selalu butuh seorang figur, guru dan mereka yang umumnya sudah dianggap sangat kredibel dengan keilmuan agamanya.

Internet sebenarnya bukan media yang kurang lengkap perihal penyedia bidang keilmuan agama, apapun bisa diperoleh dari sana, mulai dari kitab suci sampai karya-karya para ahli agama yang sudah sangat lengkap. Tetapi kita tak boleh menganggap internet sebagai satu-satunya media untuk menggali pemahaman agama.

Kita memang butuh internet, sebab setiap kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan selalu tersedia. Tetapi, setelah memperoleh pengetahuan agama yang dicari dan mempelajarinya, maka ia harus mengkonfirmasi kepada orang yang mumpuni perihal agama. Lebih-lebih harus mengkonfirmasi kepada ahli agama yang tepat dan tak bertentangan dengan paham maenstrim.

Seturut dengan kolom Kalis Mardiasih tentang ‘Jihad dan Wajah Muslim di Internet’ di kolom detik (1/6/2018), banyak orang gagal paham dengan term-term agama yang umumnya dipelajari dari internet. Katakanlah term ‘jihad’, istilah ini bukan hanya banyak disalah pahami oleh kelompok non-Muslim, justru banyak dari kelompok Muslim yang salah paham dengan istilah ini. Akibatnya, banyak umat Islam yang keliru memahami agamanya dan mudah terbahwa oleh ajaran-ajaran yang mengarah pada kekerasan.

Boleh jadi, kita tak sepakat jika para pelaku teror itu menggunakan term ‘jihad’ untuk melegitimasi aksi-aksinya. Sebagaimana terkonfirmasi dari Buletin Al-Fatihin, bahkan jika kita menganggap mereka gagal paham tentang makna jihad, kita menyebut istilah jihad saja, mereka sudah sangat bangga dan malah menamakan dirinya sendiri sebagai para Mujahidin.

Pemahaman semacam ini bukan hanya keliru, tetapi juga mengancam eksistensi umat Islam dan membuat non-Muslim bisa jadi salah memahami Islam. Seorang Mujahid, haruslah memiliki kriteria yang cukup lengkap dalam hal agama, ia harus betul-betul paham kitab suci dan umumnya harus memiliki pandangan agama yang searah dengan para ulama atau ahli agama. Dan, ia tak boleh berbeda pendapat secara berlebih-lebihan, apalagi sampai menghujat pemerintah dan kepada meraka yang tak sepaham.

Jelas, pandangan para pelaku teror tentang term-term agama sudah sangat keliru dan sama sekali tidak mengambarkan agama yang mereka yakini. Jika mereka menganggap gerakan mereka adalah ide jihad yang terkomfirmasi oleh kitab suci, maka sudah jelas hal itu keliru sebab Islam, dan agama apapun di bumi ini, tak pernah mengajarkan kekerasan ketika keberagaman dan berbedaan di masyarakat dapat hidup harmonis dan berdampingan.

Lagi-lagi, kesalahan dalam memahami term agama, umumnya dipelajari dari internet. Para kawula muda dan generasi milenial, biasanya adalah kalangan yang paling banyak mengkonsumsi keilmuan agama di internet. Sebab, maraknya media sosial juga sangat mempengaruhi bagimana orang-orang belajar agama. Boleh jadi, ada kelompok tertentu yang secara sengaja menggiring untuk belajar agama di internet.

Bisa disaksikan misalnya, kelompok-kelompok yang anti-maenstim, mereka menggunakan internet sebagai media dakwah. Melalui situs-situs Islam, youtube, dan media sosial, mereka begitu gencar menyebar paham yang umumnya tidak diterima oleh pandangan mayoritas. Sehingga disamping bijak, penggunaan internet juga harus lebih hati-hati dan memilah-milah yang dipelajari darinya.

Kesalahan orang dalam mempelajari agama, seringkali bukan disebabkan orang itu malas dan tidak serius mempelajari agamanya. Tetapi justru kesalahan itu berangkat dari cara-cara yang tidak tepat ketika belajar agama. Seperti belajar melalui internet yang entah sanat keilmuannya dari mana, sering diamini sebagai wawasan agama yang benar. Padahal, seorang pembelajar agama, sekurang-kurangnya, butuh seorang ahli yang benar-benar kredibel dibidangnya.

Kita sah-sah saja belajar agama dari sumber mana pun, termasuk dari internet, dari media sosial atau youtube, yang notabennya kita tak berjumpa secara langsung dengan guru atau penceramahnya. Tetapi sangat perlu untuk ditekankan, kelompok anti-maenstrim, radikal atau ekstremis, seringkali memanfaatkan internet lebih banyak daripada paham maenstrem yang sudah jelas-jelas kredibel. Sehingga sikap hati-hati dan kritis sangat perlu ditekankan.

Mengingat, maraknya paham radikal yang sering terjerumus pada tindakan terorisme, kelompok mereka memiliki jaringan yang luas dan umumnya internet menjadi media yang sangat ampuh dalam membangun koneksi antar anggotanya. Maka sudah sepatutnya kita dan generasi milenial, lebih waspada dan dianjurkan untuk ikut arus utama dalam beragama. Tujuannya jelas, agar siapapun tak mudah terjebak pada paham yang salah dan bertentangan.

Saat ini, ada banyak media-media online yang menyediakan informasi dan pengetahuan tentang agama. Karakternya sangat beragam, maka pilihlah media-media yang lebih santun, berwawasan keindonesiaan, mengedukasi dan selalu mengedepankan dakwah yang damai dan sejuk. Bukan media-media yang provokatif, suka menyalahkan kelompok-kelompok yang berbeda, atau malah hobbynya menyebarkan hoax yang sama sekali tak dapat dipertanggungjawabkan. [Islampers.com]

Rohmatul Izad. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM, Ketua Pusat Penelitian Studi Islam dan Ilmu-Ilmu Sosial di Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel