Indonesia sedang Mengalami Mabuk Agama, Krisis Moral

Ilustrasi
Islampers.com - Jakarta
Allâh Azza wa Jalla berfirman,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu al-Kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabût :45)

Ayat tersebut secara jelas menyatakan, bahwa muara dari ibadah shalat lima waktu adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan munkar, yang pada hakikatnya adalah membentuk manusia berakhlak mulia.

Salah satu syarat kehidupan manusia yang teramat penting adalah keyakinan (i'tiqad), yang oleh umat islam disebut agama. Agama ini bertujuan untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani serta selamat dunia hingga akhirat. Dan untuk mencapai kedua ini harus diikuti dengan syarat yaitu percaya dengan adanya Allah Subhanahu wa Ta'ala  Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam masyarakat Indonesia selain kata agama, dikenal pula kata Ad-Diin (الدين) dari bahasa arab dan kata religi dari bahasa Eropa. Memang agama mengandung ajaran yang menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya.

Agama, dalam hal ini adalah Islam (اسلام)  berasal dari kata-kata :
1. Salam (سلام) yang berarti damai dan aman
2. Salamah (سلامة) berarti selamat
3. Istilah islaam (الاسلام) sendiri berarti penyerahan diri secara mutlak kepada Allah SWT untuk memperoleh ridho-Nya dengan mematuhi perintah dan larangan-Nya.

Sehingga seseorang yang beragama dan menjalankan ajaran agamanya dengan baik semestinya juga memiliki moral yang baik. Salah satu fungsi dari agama adalah penanaman nilai moral dan memperkuat ketaatan terhadap nilai moral yang ada.

Agama dan moralitas merupakan dua kata yang tidak asing di telinga kita. Dalam pemikiran populer agama dan moralitas tidak terpisahkan. Bagaimana kedua hal tersebut berpengaruh dalam kehidupan kita?

Dalam islam, moral disebut dengan akhlak atau perangai, sedang akhlak berasal dari perkataan (al-akhlaqu) yaitu kata jama’ daripada perkataan (al- khuluqu) berarti tabiat, kelakuan, perangai, tingkah laku, muru'ah, adat kebiasaan. Perkataan (al-khulq) ini di dalam Al-Quran terdapat satu ayat dari firman Allah Ta'ala yaitu,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qolam : 4)

Sebagai umat yang mengaku mencintai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seyogyanya kita mengikuti apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan kepada kita, baik dalam beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla maupun dalam berakhlak dan bermuamalah dengan sesama makhluk. Tidak seperti kondisi umat manusia saat ini yang sungguh sangat memprihatinkan. Budi pekerti tidak lagi diperhatikan, moral tidak lagi terpelihara dan akhlak mulia tidak menjadi ukuran sehingga eksistensi kehidupan merosot kepada titik yang paling nadir. Akibatnya budaya kekerasan, kedzaliman, kecurangan, penindasan, caci-maki, memfitnah, saling menyalahkan dan berbagai prilaku buruk lainnya melanda  masyarakat di negeri ini. Tegur sapa, sopan santun, simpati dan empati sulit ditemukan. Yang ada hanyalah memanfaatkan kesempitan, kesusahaan dan kesulitan orang lain menjadi kesempatan emas bagi sebagian orang untuk meraup keuntungan duniawi. Sehingga benar apa yang dinyatakan oleh Ahmad Syauqi,

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ # فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

"Sesungguhnya eksistensi umat-umat itu sangat bergantung pada akhlaknya # Apabila akhlak mereka pudar maka punahlah eksistensinya."

Terlebih di tahun-tahun politik seperti sekarang ini tidak jarang penipuan, kebohongan, kecurangan, kezhaliman, fitnah dan adu domba dengan mengatasnamakan dalih agama, yang pada akhirnya muncul istilah "Mabok agama tapi krisis moral." Dan bila dibiarkan dan tidak disadari bersama akan berubah menjadi "Gila agama, tapi krisis moral." Agama dipolitisasi sesuai keinginan dengan menghalalkan berbagai macam cara meski melanggar larangan agama demi tercapai ambisi politiknya.

SIAPAKAH ORANG YANG BENAR BENAR GILA?

Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadits) sebagai berikut،

مر رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم على جماعة فقال: علامَ اجتمعتم؟ فقالوا: يا رسول الله هذا مجنون يُصرع، فاجتمعنا عليه، فقال صلى الله عليه وآله وسلم: ليس هذا بمجنون ولكنه المبتلى، وأضاف: ألا أخبركم بالمجنون حق الجنون؟ قالوا: بلى يا رسول الله! فقال: المتبختر في مشيه، الناظر في عطفيه، المحرّك بمنكبيه، يتمنّى على الله جنّته وهو يعصيه، الذي لا يؤمن شرّه، ولا يرجى خيره، فذلك المجنون وهذا المبتلى ـ

“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan melewati sekelompok sahabat yang sedang berkumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah, ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.”

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sesungguhnya  orang  ini tidaklah  gila (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila  (al-majnuun haqqul majnuun) “.

Para sahabat lalu menjawab, “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan, “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah  sedang mendapat musibah dari Allah.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya dari Anas bin Malik ra)

Maka benar pepatah Arab mengatakan "Al-Junun Funun" (gila itu bermacam-amacam).

Jadi, orang yang merasa paling kaya, dialah orang gila. Orang yang merasa "paling beragama", dialah orang gila. Orang Islam yang merasa "paling Islam", dialah orang gila. Ustadz yang merasa "paling alim", dialah orang gila. Ilmuan yang marasa "paling berilmu" dialah orang gila." Sebelum masuk pada fase gila, biasanya didahului dengan mabok.

Adakah orang yang mabok agama? Mabok bisa terjadi di dalam hal apa saja. Mabok bahasa Jawa "mendem" yakni kebanyakan. Kalau beragama kebanyakan ya bisa mendem, disebut mabok agama. Ciri-cirinya orang mabok agama di antaranya:

1. Banyak ngomong ke mana-mana.
2. Memaksa orang lain ikut omongannya.
3. Kalau ada yang tidak sefaham dikafirkan.
4. Tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

Jika umat islam sudah mabok agama tetapi krisis moral, ingatlah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam beraabda,

يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الْأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ أو مِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللّٰهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّاللّٰهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ قالوا يَا رَسُولَ اللّٰهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

"Hampir-hampir umat lain bersatu memperebutkan kalian seperti orang berebut hidangan dari piring. Mereka bertanya, “Wahai Rasûlullâh apakah lantaran  jumlah kita sedikit? Nabi menjawab, “Bahkan kalian ketika itu banyak, tetapi keadaan kamu laksana buih seperti buih banjir, dan Allâh akan menarik dari hati musuh kalian perasaan takut kepada kalian, lalu Allâh akan menimpakan kepada kalian penyakit Wahn. Mereka bertanya: Wahai Rasûlullâh apakah wahn itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,  “Cinta dunia dan benci mati.“ (HR. Ahmad no.22296 dan Abu Daud no. 4297)

Singkatnya, moralitas Islam adalah jalan yang di tuntut Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan Al-Quran sebagai pedomannya. Akhlak dalam Islam menjadi penghubung yang erat dengan keimanan seorang muslim. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi adalah sosok yang jauh dari karakter pemarah dan pendendam, walaupun sebelumnya beliau dizalimi oleh kaum musyrikin. Karena penghormatan terhadap musuh ini, Abu Sufyan musuh utama Nabi, dengan sukarela masuk Islam.

Dalam riwayat yang lain, pernah suatu seketika Nabi berdiri untuk menghormati iring-iringan jenazah yang lewat. Seketika sahabat mengingatkan Nabi bahwa yang lewat adalah jenazah Yahudi. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian menjawab: “Bukankah ia juga manusia?” Dalam sebuah hadits shahih juga dinyatakan, ”Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah Al-Hanafiyah As-Samhah (yang lurus dan toleran) “. Wallahu a'lam

Asimun Ibnu Mas'ud

والله الموفق الى أقوم الطريق
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel