Waspadai Siasat HTI Pasca Rekonsiliasi Prabowo-Jokowi

Isma'il Yusanto (tengah) Jubir HTI

Islampers.com - Jakarta
Oleh ; Afif Fuad S

Rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo akhirnya terlaksana juga, luput dari berbagai analisia pakar politik, atau dari perkiraan kita semua. Ya, pertemuan dilakukan di MRT, pidato sang dua negarawan dilakukan sangat sederhana di Stasiun MRT dan dilanjutkan dengan makan bersama.

Rakyat indonesia bergembira, pertemuan yang tak disangka, ketegangan selama beberapa bulan terakhir cair sudah, Prabowo memberikan selamat secara langsung dan siap memantu Jokowi lima tahun mendatang. Sebuah sikap kenegarawanan yang luar biasa, untuk Indonesia kedepan tentunya.

Namun ada yang tak senang dengan rekonsiliasi tersebut? Banyak… mulai dari para relawan, PA 212 hingga HTI, jika para relawan, yang kata Dahnil Anzar, adalah mereka yang tak paham, mungkin hanya ada kecewa, dan mungkin membakar baliho Prabowo-Sandi, namun Jika yang kecewa adalah HTI, ini menarik untuk kita perbincangkan, kira-kira apa yang akan menjadi gerakan setelah ini?

Kita maklum bersama HTI punya harapan besar dengan bergandeng pada gerbong Prabowo pada konstestasi Pilpres lalu, dengan harapan menang dan bisa kembali duduk tenang kembali, bahkan bisa saja untuk kemudian Prabowo jika jadi presiden, didesak untuk mengutak atik Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang ormas sebagai biang dibubarkannya HTI oleh Jokowi. Namun Prabowo kalah.

Lantas apa kira-kira sikap HTI pasca rekonsiliasi? Setelah putusan MK kemarin, Rekonsiliasi menjadi semacam pantangan yang dinarasikan oleh HTI dkk, untuk kemudian tidak ada rekonsiliasi, mengakui kekalahan dan apalagi ikut dalam gerbong besar Jokowi, semacam menjadi bentuk penghianatan pada suara ummat jika bahasa HTI.

Beberapa jam setelah acara rekonsiliasi di MRT, salah satu pentolah HTI, Farid Wadjdi dalam lini masa twitternya mencuit kutipan perkataan Isamil Yusanto dalam majalaj Alwaie edisi juli “Umat hanya dijadikan sebagai vote getter. Selepas suara didapat dalam pemilu, umat ditinggalkan. Partai atau penguasa tak lagi menghitung umat dalam pilihan kebijakan dan penetapan peraturan perundangan. (Ismail Yusanto, alwaie Juli )”. Kemudian dilanjut dengan “Lantas, kemana seharusnya arah kekuatan politik umat Islam, ke depan? Umat harus bisa menentukan arah politiknya sendiri, tentu saja ke arah Islam. Hal itu hanya mungkin bisa dilakukan bila kekuatan umat terkonsolidasi dengan baik.”

Narasi ini sebenarnya adalah Aji mumpung bagi HTI, mumpung Prabowo rekonsiliasi, maka sekalian ngambek dan mulai membangun kembali cita-cita utopisnya, yakni bersatunya umat Islam dalam khilafah ala HTI, dengan narasi Umat Islam harus punya arah politik sendiri. Daripada hanya dijadikan vote getter dan dikhianati nantinya.

Merapatanya HTI kemarin ke gerbong Prabowo sebenarnya bukan pada prinsip cita-cita HTI, tak mungkin HTI masuk pada sistem demokrasi yang mereka caci, namun hal ini hanya sebagai batu loncatan, menggiring emosi dan simpati umat Islam awam yang dalam hal ini “Merasa dikhianati Prabowo” dan HTI adalah pahlawan mereka untuk kemudian membuat arah politik sendiri.

HTI sudah mempersiapkan dengan matang, dengan berbagai situasi yang terjadi pasca Pilpres, jika Prabowo menang, dan jika Prabowo kalah. Dan saat ini, Prabowo kalah, rekonsiliasi dijadikan momentum untuk mengais emosi dan simpati umat Islam, bahwa mereka dikhianati dan tak akan mengulanginya lagi, apa solusinya? Mari tentukan arah politik sendiri, dengan bersatunya umat Islam, itu narasi besar HTI. Dan ini bahaya.

Pemerintahan Jokowi lima tahun mendatang, yang sudah Nothing to lose ini, harus diperhatikan benar tentang bahaya HTI ini, jika dibiarkan, lima tahun mendatang, kekuatannya akan sangat berbahaya bagi NKRI dan Pancasila.


Babe.news
Advertisement

No comments

Silahakan berkomentar sesuai artikel