Salah Kaprah Pemahaman Ustadz Firanda terhadap Ahlu Bait Rasulullah

  • Whatsapp
Islampers Featured
Islampers Featured

Islampers.com – Jakarta

Bacaan Lainnya

JIKA AHLU BAIT SAJA DIDUSTAKAN, SIAPA LAGI YANG DIBENARKAN?

(Kerancuan pemahaman Ustadz Firanda)

Oleh| Sibt Umar

Sungguh menggegerkan sekali sebuah statemen dari salah seorang yang dikatakan ahli ilmu. Bagaimana tidak? ucapan yang sangatlah tidak pantas bagi sosok yang menjadi panutan bagi jamaahnya.

Di salah satu ceramahnya, Ustad Firanda mengatakan: “Berdusta! Orang yang ngaku lihat Nabi secara langsung.” 

Tidaklah mengherankan, karena ini adalah salah satu upaya mereka untuk mencuci otak seseorang agar menjauh bahkan sampai membenci keturunan Rasulullah, yang dengan hal tersebut persatuan muslim menjadi koyak dan pemikirannya menjadi tersesat.

Kok bisa terjadi? Rasulullah sendiri yang menjelaskan dalam haditsNya, beliau bersabda:

(إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي : كتاب الله وعترتي أهل بيتي  )

Artinya: “Aku tinggalkan sesuatu yang jikalau kalian berpegang teguh padanya maka kalian tak akan tersesat: “Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Ahlu baitKu.”

Marilah kita singkap kebenaran tersebut dengan jawaban para Ulama terhadap masalah ini “Mungkinkah seorang muslim melihat Rasulullah secara langsung?”

 ️Adapun dalil yang menjelaskan bahwa memandang Rasulullah secara langsung bukanlah suatu yang terlarang Rasulullah SAW bersabda:

(من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي)

Artinya: “Barangsiapa yang melihatKu di mimpinya, maka ia akan melihatKu secara langsung (nyata). Karena setan tak bisa menyerupaiku.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dari Abu Hurairah: Hadits Shohih).

Dalam hadits ini Al-Imam As-Suyuti dalam risalahnya mengambil kesimpulan:

“Seorang yang pernah bermimpi Rasulullah semasa hidupnya (walaupun sekali) maka seakan ia dapat janji dari Rasulullah, akan melihat Rasulullah sebelum dia wafat. Kebanyakan bagi orang awam (bukan termasuk wali Allah) akan melihat Rasulullah saat detik-detik dicabut ruhnya. Rasulullah sebagai penuntun baginya untuk menutup usianya dengan lantunan dua kalimat syahadat.” 

(lihat: “Risalah Tanwir Al-Halk lis- Suyuti” 2:243).

Kemudian ustad firanda menyatakan bahwa “Bagaimana mungkin seorang yang hidup bisa melihat orang yang telah lama mati?” 

Tak dipungkiri lagi ucapan seperti ini menunjukkan bahwa di dalam hatinya masih ada keraguan terhadap kekuasaan dan kehendak Allah, serta tak percaya terhadap sabda Nabi-Nya yang telah dituturkan di atas.

Tidakkah mereka tahu kekuasaan Allah mengembalikan organ tubuh dari seekor burung yang telah terpisah jauh setiap organnya dalam kisah Nabi Ibrahim?”

Allah SWT. berfirman:

( وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ) البقرة [٢٦٠]

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Apalagi cuma memperlihatkan gambaran orang yang telah lama mati kepada orang yang masih hidup.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, Allah berfirman:

( إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَن نَّقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ) النحل: ٤٠

Artinya: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya ‘kun (jadilah)’ maka jadilah ia.

 contoh dari para Salafush Solihin yang mencapai tingkatan memandang Rasulullah secara langsung, Maka baiknya untuk tahu terlebih dahulu, sesungguhnya tidaklah mereka mendustakan para Ahli Bait Nabi atas dasar keilmuan dan pemahaman terhadap sumber Islam yang matang, tapi ketahuilah! Pendustaan mereka kepada-Nya hanyalah didasari atas iri, dengki, benci. Buktinya? sesungguhnya memandang Rasulullah secara langsung bukanlah suatu hal yang ganjil di pandangan para salaf umat. Banyak dari mereka telah mencapai tingkatan ini. 

Al-Imam As-Suyuti di dalam risalahnya menuturkan contoh puluhan ulama yang telah mencapainya, belum lagi Imam Al-Ghozali, Al-Imam Ibn-Katsir dan para Ulama lainnya.

Kalau sudah begini, mengapa mereka hanya mendustakan Al-Habib Umar ataupun As-Sayid Muhammad Al Malikiy ataupun selainnya saja? Apa dia tak dustakan juga para salaf ummah yang lain? Jelas! Dusta atas dasar iri dan dengki bukan atas dasar yang ilmiah.

1. Sahabat Abdullah bin Abbas (Habrul Ummah wa Turjumanul Quran)

أنه رأى النبي في النوم فتذكر هذا الحديث وبقي يفكر فيه ثم دخل على بعض أزواج النبي (ميمونة) فقص عليها قصته فقامت وأخرجت له مرآته صلى الله عليه وسلم، قال : فنظرت في المرآة فرأيت صورة النبي ولم أر لنفسي صورة.

Artinya: “Dari Sayidina Abdullah bin Abbas: “Sesungguhnya ia bermimpi Rasulullah sampai ingatan itu masih tetap ada di benaknya. Hingga suatu ketika ia menceritakan hal tersebut kepada salah seorang istri dari Rasulullah (Sayidah Maimunah), kemudian Sayyidah Maimunah pergi tuk mengambil sebuah cermin dan menyodorkannya kepadanya, Sayidina Abdullah bin Abbas berkata:’Ketika aku bercermin, bukan malah wajahku yang muncul, tetapi malah wajah Rasulullah’.”

2. Al-Imam Al-Ghozali

Beliau berkata dalam kitabnya:

”Setelah aku memutuskan untuk mendalami ilmu Tasawuf, dan mulai bergaul dengan para Sufi, sungguh umumnya dari mereka telah mencapai tingkatan hingga mampu melihat serta mendengar para Malaikat dan arwah para Nabi. Hingga mereka mencapai suatu tingkatan yang tak mampu diungkapkan lagi (sangking tingginya).” 

(lihat kitab Munqidz mina Ad-Dholal).

Kami akan menuqil Pendapat Ulama berkaitan dengan masalah ini:

1. Al-Imam Izzuddin bin Abdussalam Beliau berkata: “Tingkatan untuk mampu melihat Nabi secara langsung bak jalan berliku yang sedikit seseorang mencapainya. Tetapi kita tidak mengingkari kejadian yang telah dilalui oleh para ulama yang telah mencapai tingkatan ini.”

(lihat kitab Al-Hawi Lil Fatawy, 2:245).

2. Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad Beliau berkata:

“Tidak perlu heran jika sesungguhnya Rasulullah itu masih hidup tetapi di alam yang berbeda (bukankah beliau pemimpin para Syuhada yang Allah janjikan untuk hidup di dalam firmanNya?). Tetapi tidaklah bisa menjabarkan serta merasakan kehadiran dari Rasulullah kecuali ulama yang telah mencapai tingkatan itu.”

(lihat Al-Fushul Al-Ilmiyah, hal:106).

3. Al-Imam As-Suyuti Beliau berkata: “Ketahuilah! Sungguh Rasulullah hidup secara jasad dan ruhNya. Beliau melakukan semua hal sesuai dengan keinginanNya, serta sesuai kondisi di masa hidupnya. Akan tetapi tak mampu di tangkap oleh pandangan mata seorang kecuali seseorang yang Allah kehendaki (maka Allah buka penghalang atas pandangan tersebut).”

(lihat Al-Ajwibah Al-Gholiyah, hal:141).

️Dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah hidup tapi tak dapat dipandang oleh panca indera:

– Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:*

( الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون )

Artinya: “Sungguh para Nabi masih hidup di kuburnya sedang sholat.

– Serta di hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

(ما من أحد يسلم علي الا رد الله علي روحي لأرد عليه السلام)

Artinya: “Tidaklah seseorang menguluk salam kepadaku kecuali Allah kembalikan ruhKu untuk membalas salam tersebut.

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata di kitabnya: “Seyogianya untuk dimengerti bahwa setiap ruh seseorang itu memiliki tingkatan yang berbeda. Maka ruh dari orang yang mulia tak sama dengan selainnya dalam segi keadaan, kuat, kesucian ataupun keindahannya. Sungguh arwah orang muslim saling merasakan dan mengenal sesamanya.”

📂 KESIMPULAN

Setelah kita ketahui semua, maka selayaknya bagi kita untuk selalu berprasangka baik terhadap para ulama utamanya para ahlu bait Nabi. Adapun saling hina, dengki, dan benci bukanlah akhlak yang Rasulullah ajarkan.

Rasulullah bersabda:

(المسلم أخو المسلم لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا يبع بعضكم على بيع بعض)

Artinya: “Setiap muslim ialah saudara. Jangan saling dengki! Jangan saling tipu!  Jangan saling benci! Jangan saling rampas barang dagang!”

Semoga Allah memberi kelapangan dalam urusan kita.

Wallahu A’lam

Referensi:

1. Al-Hawi Lil Fatawy, karya: Al-Imam Jalaludin As-Suyuti.

2. Al-Ajwibah Al-Gholiyah, karya: Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumait.

3. Al-Fushul Al-Ilmiyah, karya: Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad.

4. Manhajus Salaf, karya: As-Sayid Muhammad bin Alwy al-Maliki.

5. Dafi’atu Asy-Syiqaq wa Al-Khilaf, karya: Syekh Habibullah Asy-Syinqity.

Pos terkait