Islampers.com - Jakarta


Was-was Ketika Ibadah.? Khanzab dan Walahan pelakunya.!!!
Oleh : Ali Rahman Ibnu Sani
 
Sebagai manusia kita dapat melihat sesuatu yang lahir saja tanpa mengetahui hal yang ghoib, seperti makhluk halus sebangsa jin, setan, dan iblis.
 
Pada hakikatnya seluruh makhluk halus itu adalah bangsa jin dari  iblis yang dilaknat oleh Allah Swt. karena tidak patuh atas perintah-Nya yaitu bersujud kepada Nabi Adam AS, sebab dia merasa enggan dan angkuh, merasa diri lebih baik dari pada makhluk yang diciptakan dari tanah.
 
Mereka para bangsa jin akan terus-menerus mengganggu dan menggoda anak Adam (bangsa manusia) sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan sehingga dapat masuk dalam neraka bersama mereka.
 
 Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
 وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا (50)
 
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam” maka bersujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Apakah kalian akan menjadikan dia (Adam) dan keturanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedangkan mereka (bangsa jin) bagi kalian adalah musuh? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahfi ayat 50)  
 
Jadi wajar saja seorang mukmin ketika berwudhu, sholat dan ibadah yang lain bahkan aktifitas biasa tidak bisa konsentrasi apalagi konsisten Karena mereka sering diganggu oleh anak-anak keturunan iblis.
 
Syekh M. Abdur Rouf Al-Manawi dalam kitabnya memaparkan penjelasan dari keturunan iblis ini :
 قال مجاهد : لإبليس خمسة أولاد جعل كل واحد منهم على شيء وهم شبر والأعور وسوط وداسم وزلنبور فشبر صاحب المصائب الذي يأمر بالثبور وشق الجيوب ولطم الخدود ودعوى الجاهلية والأعور صاحب الزنا يأمر به ويزينه لهم وسوى صاحب الكذب وداسم يدخل مع الرجل على أهله يريه العيب فيهم ويغضبه عليهم وزلنبور صاحب السوق وشيطان الصلاة يسمى خنزب والوضوء يسمى الولهان وكما
 أن الملائكة فيهم كثرة ففي الشياطين كثرة
Artinya: "Seorang pejuang berkata, “Iblis itu memiliki 5 anak, setiap anak diberikan tugas untuk mengganggu anak Adam. Mereka adalah “Syibr” si penguji kebinasaan manusia, percopetan dan penamparan pada pipi-pipi, “A’war” si penggoda agar manusia terjerumus dalam pintu zina, “Sauth” penggoda agar berdusta, “Dasim” menyelinap pada tubuh seseorang lalu menampakkan padanya aib keluarga sehingga ia marah pada mereka, “Zalanbur” penggoda kalangan pasar.  dan syaiton pengganggu sholat “Khanzab” sedangkan pengganggu wudhu “Walahan”. Sebagai mana para malaikat mereka ada banyak sekali jumlahnya, maka setan juga banyak pula.”
 
Menghadapi mereka memungkinkan kita bisa menang dengan membaca Al-Qur'an, berdzikir, mendekat Ulama, menjauhi perkara yang lalai, mengkaji ilmu Agqama dan yang lainya bernilai agama. 
 
Dalam kitab Nashoih, Imam Hakim berkata : "Hati-hati manusia yang mempercayai keagungan Allah SWT kemudian menetap memuja-muja lantas takut kepada-Nya, sungguh hati mereka akan mendeportasikan segala was-was dari musuh mereka (bangsa Jin)."
 
Namun sebaliknya, bila hati takut akan bangsa jin, mereka akan merasa kesulitan dalam polutan-polatan musuh mereka. Lalu bagaimana berinteraksi dengan Khanzab dan Walahan, ketika mereka datang mengganggu? 
 
Nabi Muhammad Saw. juga memberikan petunjuk untuk melawan Setan Khanzab ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :
  وروى مسلم أيضا عن عثمان بن أبي العاص الثقفي أنه أتى إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أن الشيطان حال بيني وبين  صلاتي وقرائتي يلبسه علي فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم :  )ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ منه واتفل عن يسارك ثلاثا( قال : ففعلت فاذهبه الله عني .رواه مسلم
Artinya: "Dari Sahabat ‘Utsman Bin Ash Ast Tsaqofi, ia mendatangi Nabi Muhammad Saw lalu berkata,“Wahai Rasulullah, Sungguh setan telah menghalangi diriku diantara sholat serta bacaanku lalu ia membuat sholatku dalam keraguan” lalu Rasulullah Saw menjawab keluhannya, “Setan itu namanya Khanzab, kalau engkau merasakannya maka ucapkanlah Ta'awwudz (Minta perlindungan kepada Allah SWT darinya), lalu ludahilah (tanpa keluar air ludah) kepada arah kirimu sebanyak 3 kali.”
 
Syekh Thibi menjelaskan,  bahwa nama Khanzab ini bisa dibaca “Khanzib, Khinzib, atau Khunzib” dengan mengkasrohkan huruf Zai-nya. Juga bisa dengan menfathahkannya “khunzab dan Khinzab”.
 
Mengenai syaiton Walahan si pengganggu ibadah wudhu, sabda Nabi Muhammad Saw juga turut mengantisipasi atas penting menjaga ibadah ini supaya bersuci diniatkan dengan benar tanpa keraguan, sempurna wudhu dengan sunah serta menjaga rukun-rukunnya dengan sebaik-baik nya, karena wudhu adalah perisai seorang mukmin jika tidak benar maka retaklah perisainya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berkualitas shahih :
 إن للوضوء شيطانا يقال له الولهان، فاتقوا وسواس الماء 
Artinya: “Sungguh didalam berwudhu ada syaiton yang bernama “(Al-Walahaan), Berwaspadalah terhadap was-was air”
 
Was-was air ditimbulkan oleh walahan sehingga ia membingungkan orang-orang yang berwudhu jadi kebingungan sambil bertanya-tanya pada diri mereka. bingung air sampai keanggota wudhu atau tidak? apakah sudah 3 kali basuhan atau sekali? Apakah air yang digunakan bersuci itu benar suci atau najis? Sudah dua kullah atau belum?
 
 Inilah yang sering terjadi atas kelalaian orang yang berwudhu tanpa berwaspada akan was-was syaiton ini. Maka penting sekali menjaga sunah, seperti : membaca bismillah sebelum berwudhu karena bismillah bisa mengusir setan, ibarat sebuah pisau yang menusuk-nusuk tubuh setan sehingga mereka jera dan tersakiti.
 Semoga kita dilindungi oleh Allah Swt dimanapun kita berada.
 Semoga bermanfaat.......

 ________________________
 Referensi :
 • Syarh Atthibi, Karya Imam Husein Bin Muhammad At-Thibi, Juz 1, Hal. 231, Cet. Dar Al-Kotob Al-ilmiyah.
 • Tafsir Qurtubi, Karya Syekh Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubi, Juz 5, Hal. 272, Cet. Ihya’ At Turots Al ‘Aroby.
 • Faydhul Qodir, Karya Syekh Muhammad Abdurrauf Al Manawi, Juz 2, Hal 625, Cet. Dar Al Fikr.

Advertisement

Tidak ada komentar

Silahakan berkomentar sesuai artikel