Akibat Doktrin Khilafah Mahasiswa IPB Nyaris Bunuh Orang Tua Karena Dilarang ke Suriah

  • Whatsapp
Ken Setiawan Pendiri NII Crisis Center
Ken Setiawan Pendiri NII Crisis Center

Islampers.com – Jakarta
Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan mengaku mendapatkan laporan dari masyarakat yang cukup histeris, seorang pelaku hampir membunuh orang tuanya karena dilarang berangkat ke Suriah. Padahal pelaku adalah keponakan Polisi yang menjabat Wakapolres dan tantenya adalah polwan dengan pangkat Kombes berdinas di Mabes Polri.

Sebut saja Putra (Nama Samaran) sebelum terpapar radikalisme adalah anak yang taat dan penurut pada orang tua, rajin ibadah dan suka membantu teman yg membutuhkan.

Bacaan Lainnya

Keluarga kemudian mendapati perubahan drastis pada anaknya, terjadi penyimpangan perilaku menurut kawan-kawan. Saat kuliah di kampus IPB Bogor sering dialog frontal memojokan, menyalahkan pemerintah dan aparat, semua yang di lakukan oleh pemerintah dan aparat salah.

Dikutip dari Arrahmahnews.com dikatakan Putra juga pernah mengecat dinding rumahnya yang semula putih lalu diganti dengan warna cat hitam dan ditengahnya ditulis kalimat tauhid.

Putra selalu marah-marah ketika minta dana dan tidak dikasih, dan tidak segan-segan untuk melempar perabot rumah tangga.

Bahkan kedua orang tuanya yang sedang sholat berjamaah di rumah pernah ditendang dan dipukul oleh Putra sampai lebam-lebam dan memar karena tidak dikasih dana untuk keluar negeri dengan alasan jihad. Sempat ambil senjata tajam tapi berhasil direbut oleh orang tuanya.
Karena curiga, saat Putra kembali kuliah di Bogor, kedua orang tuanya menggeledah kamarnya dan ditemukan surat wasiat pamitan kalau Putra hendak berangkat ke Suriah untuk berjihad.

Akhirnya keluarga menghubungi Hotline NII Crisis Center di 0898-5151-228 dan minta untuk berdialog dengan Putra agar bisa kembali normal seperti sedia kala.

Melalui tahapan identifikasi, investigasi dan rehabilitasi akhirnya Putra menyadari kesalahan dan mulai berubah kembali walaupun belum seratus persen, terus diadakan dialog dan memberikan kegiatan agar tidak berfikir kembali radikal.

Pos terkait